quran
Photo by Abdulmeilk Aldawsari on Pexels.com

Ulumul Qur’an: Pengertian, Fase-fase, dan Cabang-cabang

Diposting pada

Pengertian Ulumul Qur’an

Secara bahasa, Ulumul Qur’an, diambil dari dua kata yaitu “ulum”, yang merupakan jamak dari kata ‘ilm dari asal kata ‘alima ya’lamu, yang berarti ilmu-ilmu atau pengetahuan-pengetahuan dan “Al-Qur’an” yang berarti bacaan atau pembacaan.

Sedangkan Al-Qur’an menurut istilah berarti kalam Allah yang diturunkan kepada Nabi muhammad SAW sebagai mukjizat, yang dinilai ibadah jika membacanya, dimulai dari surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Naas.

Maka penggabungan dua kata ini yaiyu “ulum” dan “Al-Qur’an” bisa disimpulkan sebagai ilmu atau pengetahuan yang berhubungan dengan Al-Qur’an.

Secara istilah, Ulumul Qur’an telah dirumuskan oleh para ulama, diantaranya:

Sayyid Alwi bin Abbas Al-Maliki berpendapat: ilmu yang membahas Al-Qur’an dari segi turunya, Sanadnya, bacaanya, lafadz-lafadznya, makna-maknanya, yang berkaitan dengan lafadz atau hukumnya (Ilmu Tafsir).

Al-imam Jalaluddin As-Suyuthi, beliau memperluas pemahaman Ulumul Qur’an dengan memasukan kedokteran, ilmu ukur, astronomi, dan sebagainya ke dalam Ulumul Qur’an selama ada keterkaitan, jadi ilmu apapun kalau ada keterkaitan dengan Al-Qur’an, maka Imam As-Suyuthi mengkategorikan itu sebagai Ulumul Qur’an.

Al-Zarqani merumuskan pengertian Ulumul Qur’an sebagai berikut: beberapa pembahasan yang berhubungan dengan Al-Qur’an al-Karim, dari segi turunnya, urut-urutannya, pengumpulannya, penulisannya, bacaannya, penafsirannya, nasikh dan mansukhnya, penolakan hal-hal yang bisa menimbulkan keraguan terhadapnya, dan sebagainya.

Suatu ketika Harun ar-Rasyid bertanya kepada Imam Syafi’i tentang ilmu Al-Qur’an, Imam Syafi’i menjawab ilmu Al-Qur’an itu banyak sekali.

Apakah Anda bertanya tentang bagian-bagian yang muhkam, mutasyabih bagian-bagian yang dibelakangkan atau yang didahulukan atau tentang nasikh dan mansukh ataukah soal-soal yang lain.

Dari jawaban Imam Syafi,i itu mengindikasikan bahwa Ulum Al-Qur’an sangat banyak. Para Ulama mendefinisikan Ulumul Qur’an sebagai “ilmu yang membahas hal-hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an.

Fase-fase Ulumul Qur’an

Fase Sebelum Kodifikasi

Sebelum Ulumul Quran kodifikasikan, Ulumul Quran telah dikenal para sahabat sejak masa Nabi.

Hal itu dapat dilihat dari antusias para sahabat Nabi untuk mempelajari al-Quran dengan semangat tinggi.

Apabila mereka menemui kesulitan dalam memahami al-Quran, mereka bertanya langsung kepada Nabi Saw (Al-Qaththan: 437).

Nabi bagi para sahabat adalah sebagai kamus berjalan dan sumber ilmu. Hanya kepada Nabi mereka menanyakan segala sesuatu yang tidak mereka pahami termasuk makna atau pengertian ayat-ayat al-Quran.

Sebagai ilustrasi berikut ini dikemukakan beberapa contoh.

Beberapa riwayat berikut ini membuktikan adanya penjelasan Nabi kepada para sahabat menyangkut penafsiran al-Quran:

a. Riwayat yang dikeluarkan oleh Ahmad, Tirmidzi, dan yang lainnya dari ‘Adi bin Hayyan,  ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

Artinya: “Yang dimaksud dengan orang-orang yang dimurkai Allah adalah orang-orang Yahudi, sedangkan yang dimaksud dengan orang yang tersesat adalah orang-orang Nasrani.”

Dalam riwayat diatas sahabat bertanya kepada Nabi mengenai makna “ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhdhallin “yang terdapat dalam surat al-Fatihah, Nabi menjawab: “maghdhubi alaihim” adalah orang-orang Yahudi. Sedangkan “dhallin” adalah orang-orang Nasrani.

b. Riwayat yang disampaikan oleh Tirmidzi dan Ibn Hibban didalam sahihnya, dari Ibn Mas’ud ia berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“yang dimaksud dengan shalat wustha adalah shalat ‘ashar.”

Riwayat yang disampaikan oleh Ahmad, Al-Bukhari, Muslim dan yang lainnya dari Ibnu Mas’ud yang menceritakan bahwa ketika turun surat Al-An’am ayat 82 :

ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَلَمۡ يَلۡبِسُوٓاْ إِيمَٰنَهُم بِظُلۡمٍ أُوْلَٰٓئِكَ لَهُمُ ٱلۡأَمۡنُ وَهُم مُّهۡتَدُونَ 

Artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”.(QS. Al-An’am : 82)

Memahami ayat ini para sahabat merasa kesulitan lalu bertanya kepada Rasulullah: “Ya Rasulullah, siapa diantara kami yang tidak pernah menzalimi diri sendiri ?

Lalu beliau menjawab dengan menafsirkan kata ظُلۡمٍ dalam ayat tersebut dengan arti 8÷ŽÅe³9$#. Nabi merujuk kepada ayat yang terdapat dalam surat Luqman.

Tentu kalian pernah mendengar perkataan Lukman al-Hakim bahwa kemusyrikan itu merupakan kezaliman yang besar. Dalam surat Lukman ayat 13,

Artinya: “Dan (Ingatlah) ketika Lukman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan Allah (Syirik)itu adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

d. Abdullah bin Umar mengatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi kemudian bertanya tentang makna as-sabil yang terdapat dalam surat Ali Imran ayat 97 :

Artinya: “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke baitullah”.(QS. Ali Imran: 97).

Rasul menjawab tentang makna as-sabil yaitu bekal (az-zad) dan kenderaan (ar-rihlah). Nabi benar-benar mengetahui dan memahami semua ayat-ayat Al-Quran, karena Allah telah mengajarkan kepadanya, sebagaimana firmannya:

…وَأَنزَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكَ ٱلۡكِتَٰبَ وَٱلۡحِكۡمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمۡ تَكُن تَعۡلَمُۚ وَكَانَ فَضۡلُ ٱللَّهِ عَلَيۡكَ عَظِيمٗا 

…Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu. (QS. An-Nisa’: 113)

Nabi menjelaskan semua makna ayat yang belum dapat dipahami para sahabat, jika mereka bertanya kepadanya.

Hal ini menunjukkan bahwa Ulumul Quran mulai tumbuh semenjak masa nabi.

Nabi adalah mufassir awal. Akan tetapi penafsiran nabi terhadap ayat-ayat tersebut tidak ditulis secara resmi oleh para sahabat

Penafsiran nabi hanya di sampaikan kepada sahabat yang lain dan tabi’in denga periwayatan dari mulut ke mulut.

Ada beberapa sebab (Kadar, 2009: 6) mengapa penafsiran nabi sebagai bagian dari Ulumul Quran tidak ditulis para sahabat, yaitu :

  1. Ada larangan dari rasul menulis sesuatu selain Al-Quran, karena dikhawatirkan perhatian para sahabat menjadi terbagi, tidak sepenuhnya kepada Al-Quran, padahal proses penurunan Al-Quran ketika itu masih berlangsung. Atau khawatir bercampurnya Al-Quran dengan sesuatu yang bukan Al-Quran.
  2. Para sahabat tidak merasa perlu menulisnya, sebab mereka orang-orang dhabit, dan jika ada problem mereka dapat langsung bertanya kepada nabi.
  3. Banyak para sahabat yang tidak pandai menulis. Demikianlah perjalanan Ulumul Quran sampai pada masa Umar bin Khattab. Adapun para perintis Ulumul Quran (Anwar,2000:20) pada abad I (sebelum kodifikasi) dapat dijelaskan sebagai berikut:
  • Dari kalangan sahabat: Khulafa’ al-Rasyidin, Ibn ‘Abas, Ibn Mas’ud, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Abu Musa al-‘Asy’ari, dan Abdullah bin Zubair.
  • Dari kalangan tabi’in : Mujahid, Atha’ bin Yasar, Ikrimah, Qatadah, Al-Hasan Al- Bashri, Sa’id bin Jubair, Zaid bin Aslam.
  • Dari kalangan tabi’ut tabi’in: Malik bin Anas Priode sebelum kodifikasi tersebut terjadi pada abad I H.
Fase Kodifikasi

pertumbuhan Ulumul Quran sebagaimana ditulis para ulama adalah sebagai berikut:

a. Abad II H.

Pada abad ini para ulama memberikan prioritas atas penyusunan tafsir sebab tafsir merupakan induk Ulumul Quran. Diantara ulama

abad II H ini yang menyusun tafsir (Syahbah: 31) adalah :

1) Syu’bah al-Hajjaj (w. 160 H)

2) Sufyan bin Uyainah (w. 198 H)

3) Sufyan al-Tsauri (w. 161 H)

4) Waqi’ bin al-Jarrh (w. 197 H)

5) Muqatil bin Sulaiman (w. 150 H)

6) Ibn Jarir Ath-Thabari (w. 310 H)

b. Abad III H.

Pada abad ini, selain tafsir dan ilmu tafsir, para ulama mulai menyusun Ulumul Quran, diantaranya adalah:

1) ‘Ali bin al-Madini (w. 234 H).

2) Abu Ubaid al-Qasimi bin Salam (w. 224 H) menyusun ilmu Nasikh wa Mansukh, ilmu Qira’at, dan Fadha’il al-Quran.

3) Muhammad bin Ayyub al-Dhurraits (w. 294 H) menyusun ilmu Makki wa al-Madani.

4) Muhammad bin Khalaf al-Marzuban (w. 309 H) menyusun kitab al-Hawi fi Ulum al-Quran.

5) Ibn Jarir al-Thabari (w. 310 H) menyusun tafsir Jami’ Al-Bayan fi Tafsir al-Quran.

c. Abad IV H

Diantara ulama yang menyusun Ulumul Quran adalah :

1) Abu Bakar al-Sijistani (w. 330 H) menyusun kitab Gharib al-Quran.

2) Abu Bakar Muhammad bin al-Qasim al-Anbari (w. 328 H) menyusun kitab “ajaib Ulum al-Quran.

3) Abu al-Hasan al-Asy’ari (w. 324 H) menyusun kitab al-Mukhtazam fi Ulum al-Quran.

4) Muhammad bin Ali al-Adfawi (w. 388 H) menyusun kitab al-Istighna’ fi Ulum al-Quran.

d. Abad V H.

Diantara ulama yang berjasa dalam pengembangan Ulumul Quran

pada abad ini adalah :

1) Ali bin Ibrahim bin Sa’id al-Hufi (w. 430 H) menyusun kitab al-Burhan fi Ulum al-Quran.

2) Abu ‘Amr al-Dani (w. 444 H) menyusun kitab al-Taisir fi Qira’at al-Sab’ah dan kitab al-Muhkam fi al-Naqth.

e. Abad VI H

Ulama yang terkenal pada abad ini anatara lain :

1) Abu al-Qasim bin Abdu al-Rahman al-Suhaili (w. 581 H) menyusunkitab Mubhamat al-Quran, kitab ini menjelaskan maksud kata-kata al-Quran yang tidak jelas, apa atau siapa yang dimaksudkan.

2) Ibn al-Jauzi (w. 597 H) menyusun kitab Funun al-Afnan fi ‘Aja’ib al-Quran dan kitab al-Mujtab fi ‘Ulum tata’allaq bi al-Quran.

f. Abad VII H

Pada abad ini mulai berkembang ilmu Majaz al-Quran dan ilmu Qira’at. Ulama yang menaruh perhatian dalam bidang ini adalah :

1) Alamuddin al-Sakhawi (w. 643 H) menyusun kitab Hidayat al-Murtab fi Mustasyabih.

2) Ibn ‘Abd al-Salam (w. 660 H) ia mempelopori penulisan ilmu Majaz al-Quran.

3) Abu Syamah (w. 655 H) menyusun kitab al-Mursyid al-Wajiz fi Ulum

al-Quran tata’allaq bi al-Quran al-‘Aziz.

g. Abad VIII H

Mereka yang bergiat dalam penulisan Ulumul Quran abad ini antara lain adalah :

1) Ibn Abi al-Isba’ menyusun ilmu Bada’i al-Quran yakni ilmu badi’ (tentang keindahan bahasa yang kandungan al-Quran).

2) Ibn al-Qayyim (w. 752 H) menyusun Ilmu Aqsam al-Quran (tentang sumpah-sumpah yang terdapat dalam al-Quran).

3) Najmuddin al-Thufi (w. 716 H) menyusun Ilmu Hujaj al-Quran atau Ilmu Jadal al-Quran membahasa bukti atau argumentasi yang dipakai al-Quran untuk menetapkan sesuatu.

4) Abu al-Hasan al-Mawardi, menyusun Ilmu Amtsal al-Quran.

5) Badruddin al-Zarkasy (w. 794 H) menyusun kitab al-Burhan fi Ulum al-Quran.

6) Taqiyuddin Ahmad bin Taimiah al-Harrani (w. 728 H) menyusun kitab Ushul al-Tafsir.

h. Abad IX dan X H

Perekembangan Ulumul Quran pada masa ini dipandang telah mencapai kesempurnaan. Para ulama abad ini adalah :

1) Jalaluddin al-Bulqini (w. 824 H) menyusun kitab Mawaqi’ al-Ulummin Mawaqi; al-Nujum.

2) Muhammad bin Sulaiman al-Kafiyaji (w. 879 H) menysun kitab al-Taisir fi Qawa’id al-Tafsir.

3) Jalaluddin ‘Abd al-Rahman bin Kamaluddin al-Suyuthi (w. 911 H) menyusun kitab al-Tahbir fi Ulum al-Tafsir. Kemudian ia juga menyusun kitab yang lebih sempurna lagi yang bernama al-Itqan fi Ulum al-Quran, membahas 80 macam ilmu al-Quran. Kitab ini belum ada yang menandingi mutunya sehingga diakui sebagai kitab standard dalam mata pelajaran Ulumul Quran. Setelah al-Suyuthi wafat, terjadilah stagnasi dalam perkembangan ilmu al-Quran sampai ahir abad XIII H.

i. Abad XIV H

Pada masa ini Universitas Al-Azhar Mesir diakui telah memicu kebangkitan kembali penyusunan kitab-kitab yang membahas tentang al-Quran setelah memasuki abad XIV H karena telah membuka jurusan bidang studi tafsir hadis. Para ulama yang berjasa pada abad ini terkait penyusunan

Ulumul Quran antara lain adalah :

1) Syekh Thahir al-Jaziri, yang menyusun kitab al-Tibyan fi Ulum al-Quran.

2) Jalaluddin al-Qasimi, (w. 1332 H) menyusun kitab Mahasin al-Ta’wil.

3) Muhammad Abd al-‘Azhim al-Zarqani, menyusun kitab Manahil al-Irfan fi Ulum al-Quran.

4) Muhammad ‘Ali Salamah, menyusun kitab Manhaj al-Furqon fi Ulum al-Quran.

5) Syeikh Tanthawi Jauhari, menyusun kkitab al-Jawahir fi Tafsir al-Quran dan al-Quran wa Ulum ‘Ashriyyah.

6) Mushthafa Sadiq al-Rafi’i, menyusun kitab I’jaz al-Quran.

7) Sayyid Quthub, menyusun kitab al-Tashwir al-Fani fi al-Quran.

8) Sayyid Imam Muhammad Rasyid Ridha, menyusun kitab Tafisr al-Quran al-Hakim yang terkenal dengan nama tafsir al-Manar.

9) Dr. Subhi al-sahlih, guru besar Islamic Studies dan Fiqhu Lughah pada fakulatas Adab Universitas Libanon, menyusun kitab Mabahits fi’Ulum al-Quran.

10) Syeikh Muhammad Mushthafa al-Maraghi, menyusun sebuah risalah yang menerangkan kebolehan kita menterjemahkan al-Quran, ia menulis kitab tafsir al-Maraghi (Anwar, 2000: 21 – 28).

Cabang-cabang Ulumul Qur’an

1. Mawhathin Nuzul

Ilmu ini adalah ilmu yang membahas Al-Qur’an dari segi turunya, baik itu tempat atau waktunya, yang terdiri dari asbabunnuzul, makkiyah, madaniyyah, hadhoriy, safariy, dll.

Contoh asbabunnuzul (sebab-sebab turunnya Al-Qur’an) misalnya, riwayat Imam Bukhori dari Ibn mas’ud, beliau berkata : Aku berjalan bersama Nabi Saw. di Madinah.

Beliau bertumpu pada tulang ekor. Lalu beliau melewati sekelompok orang Yahudi. Sebagian mereka bertanya, “ceritakan pada kami tentang roh”. Sejenak beliau berdiri dan mengangkat kepala. Dan aku tahu

bahwa beliau hendak mendapat wahyu. Kemudian beliau membaca :

لايلف لاإ ملعلا نم متيتوا ام و يبر رما نم حورلا لق حورلا نع كنولؤسي و

Artinya : “Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah : “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

2. Ilmu Sanad

Yaitu ilmu yang membahas tentang perwayatan Al-Qur’an, yang terdiri dari   mutawatir, ahad, syadz, dll.

Contoh dari sanad mutawatir (sanad yang diriwayatkan oleh banyak periwayat yang mustahil mereka sepakat berdusta atas sanad itu) misalnya adalah sanad yang diriwayatkan oleh imam-imam al-qiro’ah as-sab’ah yaitu Nafi’, Ibn Katsir, Abi ‘Amr, Ibn ‘Amir,’Ashim, Hamzah, dan Al Kisa’i.

3. Ilmu Qiro’at

yaitu ilmu tentang tata cara membaca Al-Qur’an, seperti waqof, ibtida’, mad dsb.

Misalnya contoh waqof (tempat berhenti membaca suatu ayat), Al-Kisa’i berhenti pada kata  يو  ( yang lafadz aslinya adalah ) نأكيو   yang terdapat dalam surah Al-Qasas ayat 82.

4. Ilmu Lafadz Qur’an

Yaitu ilmu yang membahas lafadz-lafadz dalam Al-Qur’an yang harus di teliti lebih dalam lagi agar tidak menimbulkan salah paham, seperti ghorib, mu,arrob (lafadz yang di-Arab-kan), majaz, dll)

Contoh mu’arrob misalnya, ليجسلا (Al-Fiil : 4) yang merupakan bahasa Persia dan ساطسقلا (Al-Isra’ : 35) yang merupakan bahasa Romawi.

Contoh majaz misalnya, lafadz untuk yang tidak berakal digunakan untuk yang berakal, contohnya surah An-Nahl ayat 49 yang berbunyi :

ضرلاا يف ام و تاومسلا يف ام دجسي لله و

Artinya : “Hanya kepada Allah lah semua yang berada di langit dan bumi bersujud”

Kata yang seharusnya dipakai untuk yang tidak berakal )ام( digunakan untuk yang berakal)نم( , karena digunakan untuk mencakup semua makhluk di bumi dan langit, termasuk malaikat dan manusia.

5. Ilmu Rasm Utsmani

Rasm yang bererti menggambar atau melukis, yang dimaksud dengan Rasm Utsmani adalah bentuk tulisan Al-Qur’an yang ditulis oleh beberapa sahabat Nabi pilihan dalam penyalinan mushaf Al-Qur’an yang diketuai oleh Zaid bin Tsabit atas penunjukan Khalifah Utsman.

Penulisan ini mempunyai proses yang panjang, mulai dari pengumpulan ayat-ayat, pengumpulan para sahabat yang hafal Al-Qur’an, lalu penulisan Al-Qur’an sesuai qira’at yang telah disepakati oleh sahabat pada waktu itu.

6. Ilmu Munasabah

Secara bahasa munasabah berarti saling mendekati dan saling menyerupai, sedangkan menurut istilah, munasabah adalah ilmu yang menjelaskan tentang berbagai hubungan antara ayat/surah yang satu dengan ayat/surah yang lain.

Contohnya, keterkaitan atau hubungan ayat dengan ayat yang ada dalam surah Al- Ikhlas yang sama-sama saling menguatkan dalam membahas tentang keesaan Allah.

7. Ilmu Nasikh wa Al-Mansukh

Secara bahasa Nasikh berarti pembatalan dari suatu wadah ke wadah yang lain.

Sesuatu yang membatalkan, menghapus, memindahkan disebut Nasikh. Sedangkan yang dibatalkan, dihapus, dipindahkan, disebut Mansukh.

Sedangkan menurut istilah Nasikh wa Mansukh adalah pengalihan/pemindahan hukum Syara’ dengan hukum Syara’ lain.

Contohnya adalah ayat tentang ‘iddah :

جارخإ ريغ لوحلا ىلإ اعاتم مهجاوزلأ ةيصو اجاوزأ نورذي و مكنم نوفوتي نيذلا و

Dinaskh atau di hapus hukumnya oleh ayat

ارشع و رهشأ ةعبرأ نهسفنأب نصبرتي

Yang pada mulanya hukum masa ‘iddah bagi perempuan adalah satu tahun diubah menjadi empat bulan sepuluh hari.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *