sejarah sistem perdagangan tradisional

Sejarah Sistem Perdagangan Tradisional atau Hukum Commenda

Diposting pada

Sejarah Sistem Perdagangan Tradisional dan Hukum Commenda

Sistem perekonomian tradisional merupakan sistem yang digunakan oleh  masyarakat tradisional yang hanya mengandalkan alam dan tenaga kerja. Sistem perekonomian ini memiliki ciri – ciri sebagai berikut :

  • Teknik produksi yang dipelajari dari turun – temurun serta bersifat   Sederhana.
  • Terikat oleh tradisi.
  • Sedikit menggunakan modal.
  • Belum mengenal pembagian kerja.
  • Pertukaran masih menggunakan barter.
  • Tanah merupakan tumpuan kegiatan produksi dan sumber Kemakmuran.

Menurut Van Leur (1967), pada masa kerajaan lama, masa kejayaan Hindhu, Budha, dan Islam, pengaruh raja atau sultan sebagai penguasa sangatlah besar pengaruhnya dalam dunia perdagangan.

Mereka bukan hanya sebagai pengontrol keamanan, atau penarik pajak, namun mereka juga bertindak sebagai pemegang saham. Berkembangnya Makassar sebagai Emporium menyebabkan pelayaran niaga antara timur dan barat ditempuh secara tidak langsung.

Para pedangan dari Cina dan teluk Parsi hanya sampai di Malaka atau di Makassar saja, dimanan perdagangan bisa dilakukan dengan para pedagang yang berdatangan dari kawasan lainnya. Para pedagang Malaka tidak perlu meneruskan pelayaran sampai ke Maluku atau ke tempat manapun.

Demikian pula untuk para pdagang dari Cina tidak perlu meneruskan perjalananya cukup sampai di Makassar untuk mendapatan komoditi dagang dari Maluku. Makassar menjadi penting sebagai pelabuhan transito Nusantara dengan  dunia Timur, Cina, dan kawasan Asia Tenggara.

Di Makassar mungin juga di kawasan Nusantara pada umumnya, penguasa lokal berperan penting dalam pengapalan dan perdagangan atau paling tidak mewakili kepentingannya melalui pertolongan para pedagang asing. Kaum bangsawan dan para pengusaha  berperan sebagai pemilik saham, sedangkan para pelaksana langsung adalah para pedagang atas nama raja ataupun bangsawan dalam bentuk Commenda.

Mereka “berdagang” dalam bentuk Commenda, yakni menyerahkan barang dagangan kepada orang lain untuk diperdagangkan, ataupun hanya memberi uang sebagai modal.

Commenda merupakan sistem perdagangan berupa kontrak peminjaman uang sebagai modal untuk melakukan suatu usaha kegiatan berlayar dengan modal tersebut yang dapat beresiko adanya untung maupun rugi.

Sistem Commenda ini diterapkan pada masa penjajahan Belanda di Indonesia. Di sini, peran pachter selaku pemilik modal dalam kontrak peminjaman uang sebagai modal menjadi sangat penting dalam bisnis perdaganagn ikan yang lebih luas.

Bagi nelayan selaku peminjam modal, sistem sewa bagaikan institusi keuangan dan pachter merupakan alternative sumber modal usaha. Sebelum memberi pinjaman modal, pachter melakukan kontrak mengenai peminjaman dan pengembalian modal. Pengembalian modal dilakukan secara berangsur. Apabila peminjam tidak dapat mengangsur maka pachter akan terus mendapatkan hasil tangkapan ikan dari para nelayan selaku peminjam modal.

Commenda merupakan sistem perdagangan mengenai kekuasaan penguasa pelabuhan yang menyediakan kapal untuk VOC. Peguasa di sini diartikan sebagai pemberi keputusan apakan kapal dagang tersebut boleh berlabuh di pelabuhan untuk menurunkan barang atau tidak.  Birokrasi pelabuhan selaku penguasa memiliki kewajiban untuk menyediakan kapal bagi birokrasi pusat yaitu VOC.

Jalur Perdagangan serta Barang yang Diperdagangkan pada Masa Perdagangan Tradisional

Pada masa perdagangan tradisional, terdapat dua jalur perdagangan, yaitu jalur darat dan jalur laut. Jalur darat sudah ada pada sejak abad ke – 1 M. Jalur darat melalui Cina – Malaka ( Sumatra dan Jawa ) – India – Persia – Mesir – Syria – Byazantium – dan Roma. Sedangkan pada jalur perdagangan laut sudah ada sejak abad ke- 3 SM. Jalurnya dimulai dari Cina dan India – Turkmenistan – Syria – Byzantium dan Roma.

Barang-barang yang diperdagangkan pada saat Sistem Perdagangan Tradisional atau Hukum Commenda berupa Tenunan  kasar yang diperdagangkan oleh pedagang Jawa dan Melayu. Sedangkan orang-orang Halmahera dan Papua memperdagangkan sagu serta rempah-rempah sementara di Sulawesi dan Papua barang yang diperdagangkan berupa Emas, Perahu dan Burung Cenderawasih.

Di Maluku utara memperdagangkan Cengkeh, Pala dari Ambon dan Seram. Raja , Bendahara, Tumenggung dan Orang Kaya merupakan tokoh penting yang terlibat dalam system perdagangan tradisional atau hukum commenda.

Perdagangan Pada Masa Kerajaan Sriwijaya dan Kesultanan Makassar di Nusantara

Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan Sriwijaya merupakan salah satu yang perekonomianya bertumpu pada perdagangan internasional. Kerajaan Sriwijaya melakukan perdagangan internasional dengan menggunakan jalur perdagangan laut yang dimulai dari Cina melalui Laut Cina Selatan, Selat Malaka, India, sampai ke Teluk Persia. Kemudian dari Persia melalui jalur darat kemudian Syiam sampai Laut Tengah. Dari Laut Tengah barang – barang komoditas ekspor Nusantara bersama – sama disebarkan dengan barang – barang Asia lainya ke wilayah Eropa.

Pada saat berkembang menjadi pusat perdagangan internasional pun,  Sriwijaya  juga menerapkan peraturan yang mewajibkan para kapal dagang  yang melewati Selat Malaka untuk bersinggah ke pelabuhan. Dalam perekonomianya ini, kelompok bangsawan Sriwijaya juga berperan penting dalam dunia perdagangan.

Kesultanan Makassar

Banyak orang-orang di Makassar dan Bugis yang memiliki semangat berdagang yang sangat tinggi pada saat itu. Hal tersebut yang kemudian membuat mereka sering meminjam modal dalam bentuk uang dan barang dagangan, namun dengan jaminan kebebasan yang mereka miliki. Mereka melakukan perdagangan secara adil. Mereka pun berupaya untuk mendapatkan hasil yang sesuai dengan modal yang mereka pinjam dan bahkan mendapat hasil yang memadai dengan modal yang sangat kecil.

Pada masa Kesultanan Makassar ini punsudah terdapat pasar yang memang didirikan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan semua bangsa yang berdagang di Makassar. Pasar tersebut kemudian dijadikan sebagai tolok ukur harga yang menunjukan sikap komersial yang cerdas dan hemat.

Para pelaku ekonomi ini merupakan orang-orang yang diberi modal oleh para penguasa. Banyak pasar yang dibangun oleh para pemerintah pada saat itu, bahkan hampir di setiap sudut kota. Pasar-pasar tersebut tidak hanya dibangun di daratan saja namun juga di laut bagi daerah yang dikelilingi oleh sungai Je’neberang yang kemudian disebut pasar terapung. Makassar yang menerapkan system perdagangan bebas dan commenda ini pun menarik banyak perhatian dari pedagang – pedagang nusantara lain maupun pedagang asing seperti Cina, Portugis, Melayu, Malaka, Jawa, dan Belanda.

Kelebihan dan Kekurangan dari Sistem Perekonomian Tradisional

Kelebihan
  • Tidak adanya persaingan karena antar individu saling membutuhkan.
  • Masyarakat hidup aman, tidak terbebani, dan hubungan antar individu erat.
  • Masyarakat tidak bersifat individualis.
Kekurangan
  • Teknologi dan metode yang digunakan sederhana, sehingga mutu dan produktivitas barang dan jasa rendah.
  • Menolak adanya perubahan sehingga tidak berkembang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *