sejarah reformasi gereja anglikan

Sejarah Reformasi Gereja Anglikan

Diposting pada

Pada abad ke-16 kalangan tokoh pemikir mulai menampakkan ketidaknyamanan atas kepemimpinan penuh yang dilakukan oleh otoritas Gereja Roma. Dari para tokoh tersebut, maka semakin lama penentangan ini dilakukan oleh raja-raja dari Eropa yang menginginkan reformasi. Penyebabnya adalah para raja merasa Gereja Roma selalu ingin ikut campur dalam setiap permasalahaan Negara. Selama abad pertengahan manusia diatur oleh Tuhan  dengan dua kekuasaan yaitu yang bersifat ketuhanan yang dikepalai Paus dan yang bersifat keduniawian yang dikepalai raja. Kedua unsur ini bekerja sesuai dengan hukum ketuhanan. Hal ini pun berlaku di Kerajaan Inggris.

Inggris pada abad ke-16 dikuasai oleh Dinasti Tudor yang rajanya bersifat keras, berani, dan bertekad tinggi. Sehingga selalu mengalami konflik dengan Gereja di Roma. Pada masa kepemimpinan Raja Henry VIII terdapat suatu reformasi yang dilakukan oleh kerajaan disebabkan hal politik. Perubahan yang terjadi adalah Gereja yang akan memisahkan dari pusat Roma. Sehingga terkenal dengan Gereja Anglikan.

Awal mula terjadinya reformasi dikarenakan Raja Henry VIII ingin tetap berkuasa yang diteruskan oleh keturunannya. Raja Henry VIII dibantu oleh tangan kanannya Cromwell dan Cranmer untuk melepaskan diri dari ikatan Gereja Roma. Reformasi Gereja di Inggris pada tahun 1529-1534 bukanlah pertama kalinya dalam hal melakukan pergerakan agama. Pada abad ke-14, John Wycliffe, seorang guru besar Oxford menyebarkan ajarannya yang menolak otoritas Paus. Ia mengkritik kemewahan di Gereja dan Paus, serta harus berpedoman pada Kitab Injil.

Pemicu dari keputusan Raja Henry VIII untuk memisahkan dari otoritas Gereja Roma  dikarenakan ingin mempunyai seorang anak laki-laki untuk dijadikan penerus dinasti Tudor. Sebagai Raja ia memiliki tanggung jawab untuk melindungi, menjaga, dan memelihara keberlangsungan kekuasaannya. Meskipun Raja Henry VIII telah memiliki anak perempuan. Akan tetapi untuk menjadi  pemimpin di kerajaan pada saat itu tidaklah umum dilakukan oleh setiap kerajaan yang berkuasa. Alasan lainnya adalah apabila pemimpin kerajaan perempuan akan timbul konflik perebutan tahta yang menyebabkan kehancuran dan perpecahan di dalam kerajaan.

Raja Henry merupakan seorang Katholik taat. Ia merupakan anak kedua yang dipersiapkan untuk mengisi jabatan dalam gereja. Pada saat mencoba untuk mewariskan tahtanya, Raja Henry VIII kebingungan dan tidak berani memberikan tahtanya kepada anak haramnya Henry Fitrozy. Ia melihat celah untuk tetap melanggengkan dinasti Tudor.

Raja Henry VIII awalnya memiliki istri yang bernama Catherine of Aragon yang bertatus janda karena Raja Henry VIII mendapatkannya dari kakaknya sendiri, Arthur Tudor. Raja Henry VIII meyakini bahwa pernikahannya yang tidak menghasilkan seorang putera sebagai pewaris serta kematian anak-anaknya merupakan hukuman yang diberikan oleh Tuhan karena telah menikahi janda dari kakaknya. Mengingat dalam ajaran Gereja Roma, menikahi janda dari saudara laki-laki merupakan hal yang tidak boleh dilakukan. Alasan religius seperti ini dianggapnya akan berhasil untuk menceraikan permaisurinya tersebut.

Pada tahun 1527 Raja Henry VIII bersama Kardinal Thomas Wolsey, mencoba untuk menekan Catherine of Aragon agar ia mau membatalkan pernikahannya dengan Raja Henry VIII dengan menjauhkannya dengan menerima pengakuan dosanya, yaitu Uskup Fisher Rochester. Kemudian ia mengajukan permintaan dispensasi pada Paus Klemens VII agar ia merestui pembatalan pernikahannya dengan Catherine of Aragon. Akan tetapi, kepausan di vatikan sedang bermasalah dengan keponakan Catherine of Aragon, Kaisar Charles V.

Terdapat dua hal yang menghalangi perceraian antara Raja Henry VIII dengan Catherine of Aragon. Yakni, pernikahan termasuk dalam tujuh sakramen yang hanya bisa diputuskan oleh paus. Kemudian, mereka berdua juga merupakan pasangan yang sah. Poin kedua ini bermula pada saat Paus Klemens VII bergabung dengan Liga Cognac bersama dengan Prancis, Florence, Milan, dan Venesia dengan harapan dapat memukul mundur Spanyol dari Italy dan mengehentikan kekuasaan Kaisar Charles V di Peninsula.

Sayangnya, ketika Raja Henry VIII mengajukan permohonan pada paus Klemens VII, pasukan Kaisar Charles V dan Jerman telah mengepung Roma. Alasan inilah yang dipakai oleh Paus Klemens VII untuk menolak permintaan Raja Henry VIII. Ia pun mengirim Kardinal Campeggio ke Inggris untuk mengatur waktu.

Raja Henry VIII yang merasa semakin terusik dengan keputusan Paus Klemens VII, Anne Boleyn yang ingin menggantikan Catherine of Aragon menolak dijadikan selir dan permaisurinya yang keras kepala kemudian melampiaskan amarahnya pada Kardinal Wolsey dengan menuduh telah melakukan pelanggaran pada statute of Praemunire.

Pada tanggal 19 Agustus 1529, hari di mana Kardinal Wolsey dicabut jabatannya sebagai Lord Chancellor, surat untuk pembentukan parlemen baru dikeluarkan. Parlemen ini  merupakan parlemen anti kepausan, yang hanya melaksanakan kehendak dari kerajaan. Parlemen ini juga termasuk parlemen yang paling aktif dan efektif dalam sejarah konstitusi Kerajaan Inggris dibandingkan dengan parlemen sebelumnya.

Pada titik ini dapat terlihat bahwa Raja Henry VIII, tidak dapat melakukan secara nyata keputusannya sendiri, di atas tahtanya sendiri. Pengalaman pribadi ini menyadarkannyya bahwa kepentingan Inggris dapat dipermainkan oleh negara-negara lain melalui kekuasaan Paus. Raja Henry VIII memanfaatkan otoritas dalam posisinya sebagai seorang pemimpin kerajaan untuk memaksa para rohaniawan untuk membantunya melayangkan petisi pada Paus.

Ketika izin dari Paus tidak kunjung tiba, Raja Henry VIII pada tahun 1533 meminta Thomas Cranmer, yang atas permintaan Kerajaan Inggris, baru saja ditahbiskan menjadi Uskup Agung Canterbury, untuk menyetujui  keinginannya. Thomas Cranmer kemudian menyusun strategi agar para pastur senior di Inggris menyetujuinya.

Strategi belum selesai disusun, Raja Henry VIII secara diam-diam melakukan pernikahan dengan Anna Boleyn, dengan alasan sudah mengandung. Situasi sulit menjadikan Thomas Cranmer mengambil keputusan untuk meresmikan pernikahan Raja Henry VIII dengan Anna Boleyn. Mendengar berita pernikahan Raja Henry VIII , Paus Klemens VII sangat marah sehingga memberikan hukuman. Akhirnya pada 9 Juli dilakukan pengucilan terhadap Henry dan para penasihatnya kecuali dia menolak Anne. Akan tetapi, Henry tetap mempertahankan Anne sebagai istrinya dan  pada 7 September, Anne melahirkan Elizabeth. Cranmer membaptisnya segera setelah itu dan bertindak sebagai salah satu orang tua baptisnya.

Raja henry VIII dengan bantuan Thomas Cromwell berusah menyingkirkan kekuatan Gereja Roma di Inggris. Mereka mengeluarkan sejumlah undang-undang yang ditujukan untuk melumpuhkan otoritas gereja di Kerajaan Inggris. Sejumlah undang-undang dikeluarkan untuk menyerang gereja dan kepausan pada pusatnya, yaitu sumber keuangan, di antaranya:

  1. Mortuaries Act dan Probate Act (1530) untuk menutup penghasilan para rohaniawan dari pelayanan pemakaman umat
  2. Mortmain Act (1532) bersangkutan dengan larangan hak kepemilikan bagi para kaum rohaniawan.
  3. Statutes of Annnates (First Fruits). Parlemen memberikan otoritas pada raja untuk menghentikan pembayaran pada paus dari penghasilan tahun pertama dari semua uskup yang baru diangkat, yang kemudian dibayarkan pada pihak kerajaan. Undang-undang ini dikeluarkan pada tahun 1532.
  4. The Appointment of Bishop Act (1533). Bertujuan untuk memangkas habis pembayaran pada pihak Gereja Roma atau Kepausan agar biaya pembayaran tersebut dapat masuk ke dalam kas negara.

Selain itu terdapat sejumlah undang-undang yang bertujuan untuk mengurangi atau bahkan melumpuhkan otoritas gereja di kerajaan, diantaranya:

  1. Supplication Against Ordinaries (1532). ‘Ordinaries’ yang dimaksud ialah para biarawan yang dirasa menyalahgunakan otoritas gereja dengan berbagai tindakan yang tercela
  2. Submission of the Clergy (Mei 1532). Dalam undangundang ini, hukum gereja hanya dapat dibuat atas seizin raja.
  3. The Act in Restraint of Appeals (April 1533). Membahas mengenai aturan keagamaan yang setiap keputusannya merupakan otoritas dari raja, bukan dari yang lainnya, maka Raja Henry VIII bebas melakukan setiap keputusan yang berhubungan dengan keagamaan, termasuk pernikahan, tanpa restu dari pihak lain (dalam hal ini merupakan restu dari paus)
  4. The Act of Supremacy (1534). Dimulai sejak diberlakukannya The Act of Supremacy, Paus tidak berkuasa lagi atas Gereja Inggris, ia hanya diakui sebagai uskup Roma saja.

Undang-undang inilah yang mengakhiri sepenuhnya hubungan Kerajaan Inggris dengan Gereja Roma. Dengan dikeluarkannya sejumlah undang-undang ini merupakan usaha Raja Henry VIII dalam mengungguli otoritas Gereja Roma di kerajaannya sendiri. Hal ini disebabkan oleh Raja Henry VIII yang merasa otoritasnya masih kurang bila dibandingkan dengan otoritas Gereja Roma untuk mengambil keputusan yang bersangkutan dengan keberlangsungan kekuasaan Dinasti Tudor.

Gesekan atau konflik antara kedua otoritas ini diakhiri dengan kemenangan Raja Henry VIII dalam mengungguli orotitas Gereja Roma di atas tanahnya sendiri. Selain itu Raja Henry VIII membentuk Gereja Nasional Anglikan. Pemberian nama Anglikan itu sendiri diambil dari sebuah prase dalam Magna Carta yang dibuat oleh Raja John. Ecclesia Anglicana, yang memiliki arti Gereja Inggris. Tujuan utama pemisahan Gereja Inggris dari Gereja Roma ialah agar Raja Henry VIII mendapatkan legitimasi untuk membatalkan pernikahannya dengan Catherine of Aragon dan bisa menikahi Anne Boleyn agar mendapatkan seorang putera sebagai pewaris tahta. Keluarnya undang-undang The Act Of Supremacy yang menyatakan Raja Henry VIII sebagai Supreme Head of The Church of England, juga menjadikan Raja Henry VIII sebagai Kepala Gereja Inggris menggantikan paus. Paus pun hanya dianggap sebagai Uskup Roma saja. Sehingga segala bentuk aturan ataupun pertemuan kegerejaan harus mendapatkan izin darinya.

Pada masa fase awal pembentukan Gereja Inggris yang dikepalai oleh Raja Henry VIII, doktrin Anglikanisme belum semapan pada masa pemerintahan Ratu Elizabeth I. Raja Henry VIII menganggap bahwa Gereja Inggris merupakan bagian dari Gereja Katolik dan tidak akan merubah doktrin dan ritual yang biasa dilakukan di dalam gereja. Meskipun begitu, terdapat beberapa kelompok masyarakat dalan gereja Anglikan yang menjalankan beberapa praktik keagamaan yang juga ada dalam ajaran Protestan.

Terdapat beberapa dampak yang disebabkan oleh Reformasi Gereja di Inggris tahun 1534 antara lain:

  1. Dengan dideklarasikannya The Act of Supremacy tahun 1534, menandai berpisahnya Kerajaan Inggris dengan Gereja Roma. Raja Henry VIII pun menjadi Kepala Gereja dan Kepala Kerajaan Inggris secara bersamaan.
  2. Lepasnya Kerajaan Inggris dari otoritas Gereja Roma, maka Kerajaan Inggris pun menjadi negara dengan kedaulatan yang utuh tanpa interupsi dan campur tangan otoritas lain yang cenderung absolut.
  3. Dalam proses pemisahan Kerajaan Inggris dari Gereja Roma, pihak parlemen telah mengeluarkan sejumlah undang-undang yang melumpuhkan pihak rohaniawan serta tunduk pada otoritas kerajaan.
  4. Terbentuk pula Gereja Anglikan degan dikepalai oleh Raja Henry VIII. Keputusan Raja Henry VIII dalam memisahkan diri dari Gereja Roma pada tahun 1534, merupakan awal dari permasalahan keagamaan disepanjang kekuasaan Dinasti Tudor di Kerajaan Inggris. Pada masa pemerintahan Raja Edward IV, pertumbuhan Protestan sangatlah pesat dan tidak bisa dikendalikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *