polis yunani kuno
Photo by jimmy teoh on Pexels.com

Sejarah Filsafat Yunani Klasik, dari Thales sampai Empedocles

Diposting pada

Filsafat pada kenyataannya merupakan urusan yang bertalian dengan hidup dan konteks manusia dalam melibati sejarahnya. Filsafat adalah bagian dari manusia itu sendiri. Filsafat timbul dari pertanyaan-pertanyaan dalam diri sendiri, “Siapa aku?”, “Mengapa aku ada?”, “Mengapa aku merasakan?”, “Apa itu kehidupan?”…, pertanyaan-pertanyaan itulah sebagai gerbang awal filsafat, (Faiz, 2018: 2) dan mencari jawaban-jawaban dari pertanyaan itulah disebut berfilsafat. Jika kita pernah menanyakan pertanyaan-pertanyaan seperti itu dalam diri kita, itu merupakan sebuah langkah awal untuk menuju berfilsafat, dan kita tidak pernah menyadarinya.

Filsafat berawal dari asumsi yang diungkapkan pertama kali oleh Socrates (470-399 SM) bahwa an unexamined life is not worth living (hidup yang tidak diuji adalah hidup yang tidak berharga) dan while hard thinking about important issues disturbs it also consoles (meskipun berpikir mendalam tentang hal-hal penting itu menyusahkan, tetapi ia juga menyenangkan). (Faiz, 2018: 3).

Sebelum Socrates mengungkapkan apa itu filsafat, terdapat para tokoh pra-Socrates yang mengawali sebuah perenungan terhadap kehidupan ini. Filosof pertama yang dikenal adalah Thales, yang hidup sekitar abad ke-6 SM. Thales hidup di Miletus, sebuah koloni Yunani di Asia kecil. Dia berkelana ke banyak negeri, termasuk Mesir, di mana dia pernah menghitung tinggi sebuah piramida dengan mengukur bayangannya pada saat tepat bayanganya sendiri yang sama tingginya dengan bayangan piramida tersebut. Thales juga pernah meramalkan secara tepat terjadinya gerhana matahari pada 585 SM.

Thales beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu adalah air. Dia juga percaya bahwa seluruh kehidupan berasal dari air dan seluruh kehidupan kembali ke air ketika sudah berakhir. Thales dianggap sebagai kegiatan berfilsafat pertama karena mencoba menjelaskan dunia dan gejala-gejala di dalamnya tanpa bersandar pada mitos, melainkan pada rasio manusia.

Filosof berikutnya yang mengawali lahirnya filsafat Yunani ialah Anaximander. Ia juga hidup di Miletus pada masa yang sama dengan Thales. Dia beranggapan bahwa dunia hanyalah salah satu dari banyak sekali dunia yang muncul dan sirna di dalam sesuatu yang disebutnya sebagai yang tak terbatas.

Anaximander beranggapan bahwa zat yang merupakan sumber segala benda pastilah sesuatu yang berbeda dari benda-benda yang diciptakannya. Karena semua benda ciptaan itu terbatas, sesuatu yang muncul sebelum dan sesudah benda-benda tersebut pastilah “tak terbatas”. Jelas bahwa zat dasar itu tidak mungkin sesuatu yang sangat biasa seperti air.

Filosof ketiga dari Miletus adalah Anaximenes (570-526 SM). Dia beranggapan bahwa sumber dari segala sesuatu pastilah “udara” atau “uap”. Anaximenes sebelumnya mengenali teori Thales yang menganggap bahwa kehidupan itu berasal dari air. Tetapi dia membantahnya, Anaximenes mempunyai argumen bahwa air adalah udara yang dipadatkan. Dia juga beranggapan bahwa api adalah udara yang dijernihkan. Menurutnya udara karenanya adalah asal usul tanah, air, dan api.

Ketiga filosof Miletus ini semuanya percaya pada keberadaan satu zat dasar sebagai sumber dari segala hal. Namun, bagaimana mungkin satu zat dapat dengan tiba-tibaa berubah menjadi sesuatu yang lain? Hal tersebut dapat dikatakan sebagai masalah perubahan. Sejak sekitar 500 SM, ada sekelompok filosof di koloni Yunani Elea di Italia Selatan. “Orang-orang Elea” ini tertarik pada masalah ini.

Yang paling penting di antara para filosof ini adalah Parmenides (540-480 SM). Parmenides beranggapan bahwa segala sesuatu yang ada pasti telah selalu ada. Gagasan ini tidaklah asing bagi orang-orang Yunani. Tidak ada sesuatu yang dapat muncul dari ketiadaan, pikir Parmenides. Dan, tidak ada sesuatu pun yang ada dapat menjadi tiada.

Namun, Parmenides membawa gagasan itu lebih jauh. Dia beranggapan tidak ada yang disebut perubahan aktual. Tidak ada yang dapat menjadi sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya.

Parmenides sadar bahwa alam selalu berubah terus-menerus. Dia merasakan dengan indra-indranya bahwa segala sesuatu berubah. Namun, dia tidak dapat menyelaraskan ini dengan apa yang dikatakan akalnya. Jika dipaksa memilih antara bergantung pada perasaan atau pada akal, dia memilih akal.

Rekan sezaman Parmenides adalah Heraclitus (540-480 SM), yang berasal dari Ephesus di Asia Kecil. Dia beranggapan bahwa perubahan terus-menerus, atau aliran, sesungguhnya merupakan ciri alam yang paling mendasar.

Kata Heraclitus “segala sesuatu itu terus mengalir”. Segala sesuatu mengalami perubahan terus-menerus dan selalu bergerak, tidak ada yang menetap. Oleh karena itu, menurut Hericlatus “kita tidak dapat melangkah dua kali ke dalam sungai yang sama”. “Kalau aku melangkah ke dalam sungai untuk kedua kalinya, aku atau sungainya sudah berubah”.

Hericlatus mengemukakan bahwa dunia itu dicirikan dengan adanya kebalikan. Jika seseorang tidak pernah sakit, maka seseorang itu tidak tahu seperti apa rasanya sehat. Jika tidak mengenal kelaparan, maka tidak akan merasakan senangnya kenyang. Jika tidak pernah ada perang, maka tidak dapat menghargai perdamaian. Dan jika tidak ada salju, maka tidak akan pernah melihat musim semi.

Menurut Hericlatus yang baik maupun yang buruk mempunyai tempat sendiri-sendiri yang tidak terelakkan dalam tatanan dari segala sesuatu. Tanpa saling pengaruh anatara dua hal yang berkebalikan itu, maka dunia tidak akan pernah ada. Menurut Heraclitus “Tuhan adalah siang dan malam, musim salju dan musim panas, perang dan damai, kelaparan dan kekenyangan”. Bagi Heraclitus Tuhan-atau Dewa­­-adalah sesuatu sesuatu yang mencakup seluruh dunia. Menurut Heraclitus, Tuhan dapat dilihat paling jelas dalam perubahan dan pertentangan alam yang terjadi terus menerus.

Dalam satu hal, Parmenides dan Heraclitus saling bertentangan. Akal Parmenides menegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah. Sedangkan presepsi indra Heraclitus menegaskan bahwa alam selalu berubah. Paramenides dan Heraclitus sama-sama mengemukakan dua hal. Parmenides mengemukakan bahwa tidak ada sesuatu yang dapat berubah dan presepsi indra tidak dapat dipercaya. Sedangkan Heraclitus mengemukakan sebaliknya, bahwa segala sesuatu berubah dan bahwa presepsi indra dapat di percaya.

Para filosof tidak mungkin dapat berselisih paham lebih jauh lagi. Empedocles (490-430 SM) dari Sicilia yang menuntun mereka keluar dari kekacauan yang telah mereka masuki itu. Dia berpendapat bahwa penyebab pertentangan mereka adalah bahwa kedua filosof itu sama-sama mengemukakan adanya hanya satu unsur.

Empedocles menyimpulkan bahwa gagasan mengenai suatu zat dasar itulah harus ditolak. Baik air maupun udara semata-semata tidak dapat berubah menjadi rumpun mawar atau kupu-kupu. Sumber alam tidak mungkin, satu “unsur” saja. Empedocles yakin bahwa setelah dipertimbangkan, alam itu terdiri dari empat unsur, atau “akar” sebagaimana dia mengistilahkan. Keempat akar ini adalah tanah, udara, api, dan air.

Referensi:

Beekmen, Gerad. 1984. Filsafat, Para Filsuf, Berfilsafat. Jakarta: Erlangga.

Delfgaauw, Bernard. 1992. Sejarah Ringkas Filsafat Barat. Yogyakarta: PT. Tiara Wacana Yogya.

Faiz, Fahruddin. 2018. Sebelum Filsafat. Yogyakarta: MJS Press.

Harun, Hadiwijono. 1996. Sari Sejarah Filsafat Barat. Yogyakarta: Kanisius.

Hatta, Muhammad. 1986. Alam Pikiran Yunani. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Isma’il, Fu’ad Farid. 2012. Cara Mudah Belajar Filsafat. Yogyakarta: IRCiSoD.

Rapar, Jan Hendrik. 1996. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Kanisius.

Russel. Bertrand. 2002. Sejarah Filsafat Barat Dan Kaitannya Dengan Kondisi Sosio Politik Zaman Kuno Hingga Sekarang. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Salam, Burhanuddin. 1995. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.

Woodhouse, Mark B. 2000. Berfilsafat: Sebuah Langkah Awal. Yogyakarta: Kanisius.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *