midsommar

Review Film Midsommar: Sekuel Horror Absurd yang Bikin Tercengang

Diposting pada

Film Midsommar memang sudah dirilis sejak September 2019, tetapi saya baru menonton film tersebut bulan ini. Bukannya menunggu bajakan, tetapi saya baru memberanikan menonton film tersebut bulan februari ini, karena saya telah mendengar cerita dari teman saya, setelah menonton Midsommar nafsu makannya hilang, katanya film tersebut penuh dengan adegan sadis. Alhasil saya menunda untuk menonton film tersebut dan baru memberanikan menonton bulan ini.

Secara garis besar Midsommar mengisahkan tentang seorang bernama Dani (Florence Pugh) yang memiliki semacam mental health issue atau semacam penyakit mental yang menyerang emosional, psikologis, serta kesejahteraan sosial. Dani ini memiliki seorang pacar bernama Christian (Jack Reynor).

Diceritakan pacar Dani yang bernama Christian itu memiliki tiga seorang teman laki-laki. Mereka kemudian merencanakan untuk pergi liburan musim panas di Swedia. Ide tersebut muncul dari teman Christian yang bernama Pelle (Vilhem Blomgren). Di Swedia Pelle mengajak mereka mengunjungi tempat teman dan kerabatnya di suatu desa yang sedang melaksanakan festival musim panas yang diadakan 95 tahun sekali.

Ketika mereka sampai di desa tersebut memang suasananya sangat damai dan tenang. Orang-orang yang tinggal disana juga ramah. Pelle mengenalkan keempat temannya ke semua warga disana. Mereka semua disambut dengan baik.

Awalnya semua berjalan dengan baik, tetapi pada saat upacara besar dilaksanakan, hal-hal tak masuk akal pun terjadi. Mereka melakukan tindakan-tindakan tak masuk akal yang membuat saya tercengang. Liburan musim panas bertajuk damai berubah menjadi horror.

Berbeda dengan film-film horror lainnya yang biasanya berlatar pada malam hari. Midsommar ini menampilkan horror di siang bolong. Minim sekali Jumpscare pada film ini, tetapi film ini menampilkan adegan-adegan kekerasan yang membuat perut serasa mual.

Sepanjang film ini juga ditampilkan tindakan-tindakan absurd yang bikin melongo. Saya sangat mengacungi jempol kepada Ari Aster yang merancang film dengan segala keabsurdanya. Dengan absurdnya film ini, film horror yang biasa saja menjadi film horror yang luar biasa tetapi juga bikin pusing dan mual.

Gambar Gravatar
suka nonton film sendirian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *