pemikiran mencius

Pemikiran Filosof Cina Kuno Meng Zi (Mencius)

Diposting pada

Meng Zi atau lebih dikenal dengan Mencius adalah tokoh filsafat cina kuno yang hidup sekitar abad ke 4 SM, para sejarawan kebanyakan menyebutkan mencius hidup sekitar tahun 372-289 SM. Meng Zi  lahir di Mang Ko negara Zhou, dimana pada saat itu cina kuno berada pada masa perang besar antar kerajaan (476-289 SM).[1]

Meng Zi adalah penganut aliran konfusianisme/ konfusius yang merupakan ajaran dari Nabi Kong Hu Cu. Meng Zi kemudian melanjutkan ajaran konfusius dan melahirkan beberapa pemikiran yang sangat berpengaruh dalam sejarah pemikiran filsafat.

Meng Zi lahir ari keluarga menengah kebawah tetapi ada pendapat yang menyebutkan bahwa keluraga Meng Zi keturunan bangsawan. Pada waktu kecil Meng Zi sudah ditinggal ayahnya meninggal, kemudian Meng Zi diasuh ibunya yang sangat bijaksana.

Diceritakan ibunya Meng Zi sangat memperhatikan Meng Zi terutama dalam hal pemdidikan. Sampai-sampai ibunya Meng Zi harus berpindah rumah tiga kali demi mendapatkan lingkungan yang baik untuk kehidupan anaknya.

Pada awalnya Meng Zi dan ibunya pertama kali tinggal di dekat pemakaman. Di pemakaman mereka menjumpai orang-orang berduka yang ditinggal mati. Tinggal di dekat pemakaman menjadikan ternyata malah membuat Meng Zi bersikap dan menirukan layaknya orang sedang berduka. Ibunya Meng Zi khawatir sikap Meng Zi yang menirukan orang yang berduka akan terbawa sampai ia dewasa.

Hal inilah yang kemudian membuat ibunya memutuskan untuk berpindah tempat tinggal lagi. Meng Zi dan ibunya akhirnya tinggal di dekat pasar. Lingkungan pasar sangat dipenuhi hiruk pikuk orang jual beli. Ternyata pindah rumah di dekat pasar membuat Meng Zi suka menirukan gaya orang jual beli. Ibunya khawatir lagi Meng Zi dikhawatirkan dewasa nanti akan bersikap layaknya penjual yang kadang suka berbohong. Akhirnya ibunya memutuskan untuk berpindah tempat tinggal lagi. Meng Zi dan ibunya berpindah di dekat sekolahan. Akhrinya tempat tinggal di dekat sekolahan inilah yang cocok untuk lingkngan Meng Zi. Disinilah Meng Zi juga menempuh pendidikan. Di sinilah Meng Zi mulai meniru perilaku, pidato, dan disiplin guru sehingga ia menjadi seorang sarjana hingga akhirnya Meng Zi  menjadi seorang pejabat dan guru di Jixa Academy di negara bagian Qi dan menjadi filsuf yang tersohor.[2]

Pemikiran

Seperti yang telah saya singgung sebelumnya bahwasanya Meng Zi ini hidup pada masa kekacauaan yakni perang perebutan kekuasaan yang terus menerus. Hidup di tengah kekacauan membuat Meng Zi berpikir untuk mencerahkan para penguasa dengan filsafat. Tidak hanya ditujukan kepada penguasa, pemikirannya ini juga memberikan dampak pada masyarakat Cina Kuno.

Menurut Meng Zi kodrat manusia adalah baik. Seseorang yang berbuat baik hakikatnya didorong oleh kesadarannya yang terdalam terhadap kodratnya. Sebaliknya orang yang tidak berbuat baik, tidak menyadari kodratnya alias lupa hakekat dirinya yang sesungguhnya.

Meng zi menjelaskan bahwa setiap manusia ada 4 buah hati , yakni (1) Empati, dalam keadaan normal manusia akan merasa kasihan kepada orang lain ketika dilanda kesusahan; (2) Malu berbuat jahat, pada dasarnya manusia sejatinya bersifat malu akan bertindak kejahatan, (3) Mau mengalah, menurutnya manusia dalam keadaan normal orang akan memberi kemudahan atau mengalah kepada orang lain yang lebih membutuhkan; (4) Membedakan benar dan salah, dalam keadaan normal manusia akan jujur mengakui mana suatu hal yang benar dan mana yang salah.

Menurut Meng Zi manusia seharusnya menjaga keempat buah hati tersebut agar selalu berfungsi melaksanakan tugasnya. Karena empat buah hati itu adalah jiwa yang memberikan nilai kemanusiaan dirinya. Itulah Inner Beauty karunia Tuhan yang tak ternilai harganya. Ke 4 hati itu harus selalu disirami, dirawat, di pupuk dan diberi anti hama serta dijaga kebersihan lingkungan, layaknya kita merawat tanaman di kebun, maka hasilnya akan mendapatkan buah yang manis subur serta indah dan menyenangkan. Inilah makna hidup manusia yang paling dasar sesungguhnya yang menjanjikan kebahagiaan.

Lalu mengapa manusia melakukan kejahatan? Menurut Meng Zi manusia bertindak jahat karena tiga hal, Pertama, kejahatan terjadi karena pengaruh lingkungan sosial.  Kedua, kejahatan terjadi karena orang menyangkal atau menolak kebaikan kodrati yang ada dalam dirinya. Mereka yang memandang diri terlalu negatif dan tanpa berharga, tak akan peduli dengan kebaikan.  Ketiga, kurang merefleksi diri. Semakin seseorang kurang merefleksi diri, semakin ia tidak mengenal kebaikan yang ada dalam dirinya.

[1] Joshua J. Mark. 2012. Mencius. Diakses di laman ancient.eu, https://www.ancient.eu/Mencius/ pada tanggal 15 Mei 2020.

[2] Ws. Ir. Djohan Adjuan. 2013. Meng Zi : ”Semua Manusia Ada 4 Hati”. Diakses di laman spocjournal.com, http://www.spocjournal.com/religi/404-meng-zi-%E2%80%9Dsemua-manusia-ada-4-hati%E2%80%9D.html pada 15 Mei 2020.

Gambar Gravatar
suka nonton film sendirian

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *