abstract blackboard bulb chalk
Photo by Pixabay on Pexels.com

Pembagian Hukum Akal dalam Ilmu Tauhid

Diposting pada

Pengertian Ilmu Tauhid

Tauhid, adalah suatu ilmu yang membahas tentang “Wujud Allah”, tentang sifat-sifat yang wajib tetap pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari pada-Nya. Menurut Muhammad Abduh asal makna Tauhid ialah meyakinkan (mengi’tiqadkan) bahwa Allah adalah “satu” tidak ada syarikat bagi-Nya.[1]

Menurut Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy ilmu tauhid ialah ilmu yang membicarakan tentang cara-cara menetapkan akidah agama dengan mempergunakan dalil-dalil yang meyakinkan, baik dalil-dalil itu merupakan dalil naqli, dalil aqli, ataupun dalil wijdani (perasaan halus).[2]

Dalam Ilmu Tauhid untuk kita bisa mengetahui “Wujud Allah”, tentang sifat-sifat yang wajib tetap pada pada-Nya, sifat-sifat yang boleh disifatkan kepada-Nya dan tentang sifat-sifat yang sama sekali wajib dilenyapkan dari pada-Nya kemudian tentang Rasul-rasul Allah, meyakini kerasulan mereka, meyakini apa yang wajib ada pada mereka, apa yang boleh dihubungkan (nisbah) kepada diri mereka dan apa yang terlarang menghubungkannya kepada diri mereka, yaitu salah satunya menggunakan akal, karena akal merupakan bagian yang penting dalam Ilmu Tauhid.

para ahli Ilmu Tauhid membagi hukum akal, “Maklum” (yang bisa dicapai oleh akal) yaitu “Mungkin” bagi zat-Nya, “Wajib” bagi zat-Nya dan “Mustahil” bagi zat-Nya. Dalam makalah ini kami akan menjelaskan sedikit tentang pembagian hukum akal dalam Ilmu Tauhid tersebut.

Pengertian Akal

Kata akal berasal dari bahasa Arab al-‘aql, yang berarti paham, mengerti, atau berpikir. Menurut pemahaman Izutzu, pada zaman jahiliah zaman pra Islam di Arabia, term akal digunakan dalam arti kecerdasan praktis yang dalam istilah psikologi modern disebut dengan kecakapan memecahkan masalah (problem solving capacity).[1]

 Menurut Dr. Zaki Nazib Mahmud, akal adalah menghubungkan peristiwa dengan sebab akibat atau konklusinya. Hubungan sebab akibat maksudnya, akal mengembalikan peristiwa yang nampak kepada sebab terjadinya peristiwa itu. Sedangkan dimaksud dengan hubungan konklusi ialah akal melihat masa depan dengan memusatkannya pada peristiwa-peristiwa yang serupa. Namun, jika indera melihat sesuatu yang sudah nyata dan diketahui, kemudian berhenti disitu, dalam hal ini tidak ada yang disebut akal.[2]

Pembagian Hukum Akal

Para ahli Ilmu Tauhid membagi hukum akal, “Maklum” (yang bisa dicapai oleh akal) menjadi tiga bahasan yaitu “Mungkin” bagi zat-Nya, “Wajib” bagi zat-Nya dan“Mustahil” bagi zat-Nya.[1]

1. Wajib (Pasti Ada)

Hukum wajib bagi zat-Nya ialah sesuatu yang zatnya sudah ada semestinya. (Abduh, 1979: 57).  Lawan dari hukum wajib adalah mustahil/ tidak mungkin ada, jadi hukum wajib ini menjelaskan sesuatu yang  semestinya sudah ada.

2. Hukum Mustahil (Selalu Tidak Ada)

Hukum mustahil bagi zat-Nya adalah bahwa tidak mungkin bisa terjadi wujudnya, karena “Tidak Ada” (Adam), telah menjadi kemestian bagi mahiyah (hakikat) sesuatu itu. (Abduh, 1979: 58). Menurut Abduh mustahil itu tidak bisa diwujudkan dan tidak akan ada dengan pasti, bahkan akal tidak mungkin menggambarkan hakikat sesuatu yang mustahil itu. Hukum mustahil menjelaskan sesuatu yang tidsk mungkin terjadi karena semestinya memang tidak ada.

3. Hukum Mungkin

Di antara hukum-hukum yang mungkin bagi zatnya ialah, bahwa ia tidak mungkin “ada” kecuali dengan sesuatu sebab. Begitu pula bahwa ia tidak mungkin “tidak ada” kecuali dengan sesuatu sebab juga. (Abduh, 1979: 59). Menurut Muhammad Abduh sesuatu tidak mungkin memiliki dua perkara sekaligus (Ada/ Tidak). Maka menurut zat-Nya, kedua perkara tadi adalah sama.

 Sebagian dari hukum-hukum “mungkin”, ialah bahwa sesuatu yang maujud itu adalah “baru”. Karena telah pasti, bahwa dia tidak bisa wujud (ada), kecuali dengan sesuatu sebab. Adapun kemungkinan terdahulunya sesuatu itu daripada wujud sebabnya, atau bersama-sama, atau terkemudian, maka yang pertama adalah keliru. Kalau tidak begitu, lazimlah mendahulukan adanya orang yang berkehendak atas apa yang dikehendakinya.

Oleh sebab itu, ia adalah sesuatu yang “baharu”, sebab yang “baharu” itu ialah, sesuatu yang wujudnya didahului oleh “tiada” (adam). Maka karenanya jelaslah, bahwa segala sesuatu yang “mungkin ada”, adalah “baharu”.


[1] Muhammad Abduh, Risalah al-Tauhid, terj. Firdaus AN. Risalah Tauhid. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979) hlm. 57.


[1] Wiji Hidayati, Ilmu Kalam: Pengertian, Sejarah, & Aliran-alirannya. (Yogyakarta: FTIK UIN Sunan Kalijaga, 2017) hlm. 92.

[2] Ibid.


[1] Muhammad Abduh, Risalah al-Tauhid, terj. Firdaus AN. Risalah Tauhid. (Jakarta: Bulan Bintang, 1979) hlm.   36.

[2] Teuku Muhammad Hasbi Ash-Shidieqy, Sejarah & Pengantar Ilmu Tauhid/ Kalam. (Jakarta: Bulan Bintang, 1973) hlm. 1.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *