masyarakat madani
Photo by Harrison Haines on Pexels.com

Masyarakat Madani: Pengertian, Sejarah, Tujuan, dan Karakteristik

Diposting pada

Pengertian Masyarakat Madani

Secara harfiah, kata masyarakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama.

Kata “madani” berasal dari bahasa Arab madinatun yang berarti kota atau berhubungan dengan perkotaan yang menjunjung tinggi nilai, norma, dan hukum yang ditopang oleh penguasaan iman, ilmu, dan teknologi yang berperadaban.

Pengertian masyarakat madani dalam arti luas sangat beragam, hal ini dikarenakan konsep masyarakat madani muncul di berbagai belahan dunia dengan latar belakang yang berbeda pula.

Contohnya, di belahan bumi Barat dikenal dengan kata civil society. Masyarakat madani lebih dekat dengan istilah mujtama’ madani yang merupakan konsep tatanan ideal bermasyarakat yang telah diterapkan Rasulullah SAW ketika membangun masyarakat Madinah.

Contoh latar belakang yang berbeda misalnya Zbigniew Rau dengan latar belakang kajiannya pada kawasan Eropa Timur dan Uni Soviet.

Dia mendefinisikan bahwa yang dimaksud masyarakat madani merupakan suatu masyarakat yang berkembang dari sejarah yang mengandalkan ruang yang individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung dan bersaing satu sama lain.

Artinya, bebas dari pengaruh keluarga dan negara.

Pada kasus lain, Han Sung-Joo dengan latar belakang kasus Korea Selatan memiliki definisi yang berbeda pula.

Menurutnya, masyarakat madani adalah sebuah kerangka hukum yang melindungi dan menjamin hak-hak dasar individu, perkumpulan sukarela yang terbebas dari negara, suatu ruang publik yang mampu mengartikulasikan isu-isu politik, dan gerakan warga negara yang mampu mengendalikan diri dan independen yang secara bersama mengakui norma-norma dan budaya yang menjadi identitas dan solidaritas yang terbentuk, serta pada akhirnya akan terdapat kelompok inti dalam civil society ini. (Tim ICEE Jakarta 2003: 239)

Sejarah Masyarakat Madani

Menurut genealogi, istilah masyarakat madani dipadankan dengan civil society.

Konsep ini sebenarnya telah dirumuskan sejak zaman Aristoteles (384-322 SM).

Pada masa itu, masyarakat madani dipahami sebagai sistem kenegaraan dengan menggunakan istilah koinonia politike, yaitu sebuah komunitas politik tempat warga dapat terlibat langsung dalam berbagai percaturan ekonomi politik dan pengambilan keputusan.

Namun demikian, istilah ini lebih populer diperkenalkan oleh Marcus Tullius Cicero (106-43 SM) dengan menggunakan istilah societies sivilis.

Ia adalah seorang orator dan pujangga Roma yang hidup dalam abad pertama sebelum Kristus.

Civil Society disebutnya sebagai sebuah masyarakat politik yang memiliki kode hukum sebagai dasar pengaturan hidup.

Dalam rentetan sejarah konsep civil society yang dikemukakan oleh para pakar, ada yang menarik untuk diperhatikan, yaitu adanya kontradiksi pemikiran.

Sebagai contoh, Thomas Paine (1737-1803 M) menggunakan istilah masyarakat madani sebagai kelompok masyarakat yang memiliki posisi secara diametral dengan negara, bahkan dianggapnya antitesis dari negara.

Pada fase perkembangan konsep masyarakat madani berikutnya, G.W.F Hegel (1770-1831 M), Karl Marx (1818-1883) dan Antonio Gramschi (1891-1837 M) justru memiliki pandangan berlawanan dengan yang dikemukakan oleh Paine.

Ketiga tokoh ini menekankan bahwa masyarakat madani sebagai elemen ideologi kelas dominan.

Manurut Hegel, masyarakat madani adalah kemlompok subordinatif dari negara.

Lebih lanjut, hegel menjelaskan bahwa struktur sosial terbagi atas tiga entitas, yaitu keuangan, masyarakat madani, dan negara.

Keluarga merupakan ruang sosialisasi pribadi sebagai anggota masyarakat yang bercirikan keharmonisan.

Masyarakat madani merupakan lokasi atau tempat berlangsungnya percaturan berbagai kepentingan pribadi dan golongan, terutama kepentingan ekonomi.

Sementara itu, negara merupakan representasi ide universal yang bertugas melindungi kepentingan politik warganya dan berhak penuh untuk intervensi masyarakat madani.

Dari kedua deifinisi di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa secara umum yang dimaksud dengan masyarakat madani adalah kelompok atau tatanan masyarakat yang berdiri secara mandiri di hadapan penguasa dan negara memiliki ruang publik dalam mengemukakan pendapat, serta adanya lembaga-lembaga yang mandiri yang dapat menyalurkan aspirasi dan ruang publik. (Tim ICEE Jakarta, 2003: 239)

Tujuan Masyarakat Madani

Tujuan Masyarakat Madani adalah pertama, terpenuhinya kebutuhan dasar individu, keluarga, dan kelompok dalam masyarakat.

Kedua, berkembangnya modal manusia (human capital) dan modal sosial (social capital) yang kondusif bagi terbentuknya kemampuan melaksanakan tugas-tugas kehidupan dan terjalinya kepercayaan dan relasi sosial antarkelompok.

Ketiga, tidak adanya diskriminasi dalam berbagai bidang pembangunan atau dengan kata lain terbukanya akses terhadap berbagai pelayanan sosial.

Keempat, adanya hak, kemampuan, dan kesempatan bagi masyarakat dan lembaga-lembaga swadaya untuk terlibat dalam berbagai forum, sehingga isu-isu kepentingan bersama dan kebijakan publik dapat dikembangkan.

Kelima, adanya persatuan antarkelompok dalam masyarakat serta tumbuhnya sikap saling menghargai perbedaan antarbudaya dan kepercayaan.

Keenam, terselenggaranya sistem pemerintahan yang memungkinkan lembaga-lembaga ekonomi, hukum, dan sosial berjalan secara produktif dan berkeadilan sosial.

Ketujuh, adanya jaminan, kepastian, dan kepercayaan antara jaringan-jaringan kemasyarakatan yang memungkinkan terjalinnya hubungan dan komunikasi antarmasyarakat secara teratur, terbuka, dan terpercaya.

Dengan demikian telah jelas bahwa munculnya konsep masyarakat madani adalah dalam upaya membentuk masyarakat yang memiliki peradaban yang tinggi.

Artinya, semua elemen, baik pemerintah maupun masyarakat dapat menjalankan tugas sesuai peran masing-masing tanpa tumpang tindih.

Jika hal itu dilakukan, masyarakat yang sejahtera, berpendidikan, dan memiliki loyalitas tinggi terhadap negara dan kesatuan warga negara dapat tercipta.

Karakteristik Masyarakat Madani

  1. Diakuinya semangat pluralisme

Artinya, pluralitas telah menjadi sebuah keniscayaan yang tidak dapat dielakkan sehingga mau tidak mau pluralitas telah menjadi suatu kaidah yang abadi. Dengan kata lain, pluralitas merupakan sesuatu yang kodrati dalam kehidupan. Pluralisme bertujuan mencerdaskan umat melalui perbedaan konstruktif dan dinamis, serta merupakan sumber dan motivator terwujudnya kretivitas yang terancam keberadaannya jika tidak terdapat perbedaan.

  • Tingginya sikap toleransi

Artinya, baik terhadap saudara seagama maupun terhadap umat agama lain.

Secara sederhana, toleransi dapat diartikan sebagai sikap suka mendengar dan menghargai pendapat dan pendirian orang lain.

Menurut Shihab (1990), bahwa tujuan agama tidak semata-mata mempertahankan kelestariannya sebagai sebuah agama.

Namun, agama juga mengakui eksistensi agama lain dengan memberinya hak hidup berdampingan dan saling menghormati satu sama lain.

  • Tegaknya prinsip demokrasi

Demokrasi bukan sekedar kebebasan dan persaingan. Demokrasi juga suatu pilihan untuk bersama-sama membangun dan memperjuangkan perikehidupan warga dan masyarakat yang semakin sejahtera.

  • Ketaqwaan kepada Tuhan yang tinggi
  • Hidup berdasarkan sains dan teknologi
  • Berpendidikan tinggi
  • Mengamalkan nilai hidup modern dan progresif
  • Mengamalkan nilai kewarganegaraan
  • Akhlak dan moral yang baik
  • Mempunyai pengaruh yang luas dalam proses membuat keputusan
  • Menentukan nasib masa depan yang baik melalui kegiatan sosial, politik, dan lembaga masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *