larangan bersifat takabur dan perintah bersifat tawadhu
Photo by Ali Arapoğlu on Pexels.com

Maqamat dan Ahwal dalam Tasawuf: Pengertian, Pembagian, dan Perbedaan

Diposting pada

Pengertian Maqamat

Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara bahasa berarti pangkat atau derajat.[1] Maqamat dapat disebut dengan stations, stages dalam bahasa inggris, atau dalam bahasa indonesia berarti stasiun atau tahap.

Menurut terminologi sufistik maqamat diartikan sebagai jalan spiritual yang harus dilakukan para sufi dalam mencapai Tuhan, melalui proses pensucian jiwa terhadap kecenderungan  materi agar kembali ke jalan Tuhan.

Sementara menurut ilmu tasawuf, maqamat adalah kedudukan seorang hamba di hadapan Allah, yang diperoleh melalui peribadatan, mujahadat dan lain-lain.[2]

Dari penjelasan diatas disimpulkan bahwa maqamat merupakan jalan seorang sufi untuk mencapai kedudukannya di hadapan Allah melalui tahapan-tahapan dan usaha yang maksimal.

Pembagian Maqamat

Pembagian maqamat dalam tasawuf menurut beberapa ahli sebagaimana yang dikutip oleh Prof. Dr. Harun Nasution dalam bukunya Falsafat dan Mistisisme Dalam Islam dijelaskan sebagai berikut:

  1. Menurut Muhammad al-Kalabadi dalam buku al-Ta’aruf li Mazhab Ahl al Tasawuf: Tobat – Zuhud – Sabar – Kefakiran – Kerendahan hati – Takwa – Tawakal – Kerelaan – Cinta – Ma’rifat
  2. Menurut Abu Nasr al-Sarraj al-Tusi menyebut dalam al-Luma’: Tobat – Wara’ – Zuhud – Kefakiran – Sabar – Tawakal – Kerelaan hati
  3. Abu Hamid Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘ulum al-Din memberikan : Tobat – Sabar – Kefakiran – Zuhud – Tawakal – Cinta – Ma’rifat – Kerelaan
  4. Menurut Abu al-Gasim Abd al-Karim al-Qusyairi, maqamat itu adalah yang berikut: Tobat – Wara – Zuhud – Tawakal – Sabar – Kerelaan

Harun Nasution juga menjelaskan pengertian stasion-stasion dan kedudukannya dalam tasawuf sebagai berikut:

  • Tobat

Tobat yang dimaksud disini adalah tobat yang sebenarnya dan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut atau biasa dikatakan tobat nasuha. Dan terkadang tobat itu tidak dapat dicapai dengan sekali saja, diceritakan bahwa seorang sufi sampai tujuhpuluh kali tobat.[1] Tobat yang sebenarnya dalam sufisme adalahlupa pada segala hal kecuali Tuhan. Jadi tobat disini adalah tingkatan tobat yang paling tinggi dan tobatnya juga sungguh-sungguh dengan cara melupakan semua urusan kecuali urusan dengan Tuhan.

  • Wara’

Kata wara’ mempunyai arti menjauhi hal-hal yang tidak baik dan dalam pengertian sufi wara’ adalah meninggalkan segala yang dalamnya terdapat Subhat tentang halalnya sesuatu.[2] Jadi wara’ merupakan salah satu stage untuk menuju sufi, ketika menemukan sesuatu yang hukum halal haramnya belum jelas (Subhat) maka sebaiknya ditinggalkan, karena Subhat merupakan penghalang menuju sufi.

  • Kefakiran

Tidak meminta lebih dari pada apa yang telah ada pada kita. Tidak minta rezeki kecuali untuk urusan kewajiban-kewajiban. Tidak mieminta, sungguhpun tak ada pada diri kita, kalau diberi diterima. Tidak meminta dan tidak menolak.[3] Jadi ketika ingin menuju sufi harus menerima yang beliau miliki dan hanya meminta kepada Allah untuk urusan ibadah.

  • Sabar

Sabar disini adalah sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi segala larangan-Nya dan menerima segala cobaan yang menimpa kita. Dan dalam menerima cobaan tidak menunggu segala pertolongan.[4]

  • Tawakal

Menyerah kepada qada’ dan putusan dari Allah. Bersikap sabar dan menyerah kepada qada’ dan qadar Allah.[5] Serahkan semua hanya kepada Allah. Karena tawakal juga merupakan gerbang dalam menuju sufi, jika kita tidak sabar sedikit saja dan mengeluh dalam menghadapi cobaan maka itu termasuk gagal dalam menuju sufi.

  • Kerelaan

Tidak menentang kepada qada’ dan qadar, menerima putusan Allah dengan senang hati, merasa senang dalam menerima malapetaka sebagaimana merasa senang dalam menerima nikmat.[6] Jika kita ingin menuju sufi kerelaan juga termasuk kedalam stasion dalam menuju sufi, karena rela termasuk bukti kecintaan kita terhadap Allah dengan rela menerima segala putusan Allah.

Pengertian Ahwal

Ahwal adalah bentuk jamak dari kata hal, yang secara bahasa berarti kondisi, keadaan. Menurut istilah ilmu tasawuf hal berarti perasaan yang menggerakan dan memengaruhi hati yang disebabkan karena bersihnya dzikir.[1]

Pengalaman dan perasaan kejiwaan yang berubah dan dialami secara tiba-tiba, tanpa diikhtiyari yakni diluar usaha manusia ini dinamakan ah-wal.[2]

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa ahwal merupakan sebuah hidayah dari Allah karena perbuatan-perbuatan manusia yang mereka telah usahakan.

Pembagian Ahwal

Menurut al-Sarraj sebagai mana yang dikutip oleh Simuh dalam Bukunya Tasawuf dan Perkembangannya dalam Islam[1],  menyebutkan sejumlah ahwal yang dialami oleh para sufi ada sepuluh macam yaitu :

  1. المراقبة (Meditation)
  2. القرب (Nearness to God)
  3. الحب (Love)
  4. الرجاء (Hope)
  5. الأنس (Intimacy)
  6. المشاهدة (Contemplation)
  7. الخوف (Fear)
  8. الشوق (Longing)
  9. الطمأنينة (Tranguillity)
  10. اليقين ( Certainty)

Berikut penjabaran Akhwal[2] :

  • المراقبة  ( Meditation)

Adalah kondisi batin dimana orang memosisikan dirinya pada keadaan waspada dan konsentrasi. Sehingga segala pikiran selalu terfokus pada kesadaran diri yang mantap. Muroqabah selanjutnya bermakna penyatuan diri dengan tuhan segala kegiatan spiritual dan perilaku hanya untuk pendekan kepada Allah

  • الحب  ( Mahabah / Cinta)

Suatu perasaan agung dimana orang memberikan seluruh jiwanya kepada yang dicinta, rela mengorbankan apapun yang ia miliki demi yang dicinta.

  • الخوف  (Takut)

Khauf adalah sesuatu yang takut akan terjadinya kemurkaan Allah, dan takut akan kehilangan cinta Allah.

  • الرجاء  ( Berharap)

Roja berarti memupuk optimisme agar apa yang diharapkan terlaksana dengan baik.

  • الشوق  (Rindu)

Rindu adalah kondisi perasaan yang selalu ingin bertemu dengan yang dirindukan. Seorang hamba yang rindu kepada Allah selalu ingin terus berdekatan denganNya, sehingga tak akan tergoyahkan segala godaan yang akan menjauhkanya dari Allah.

  • الأنس ( Intimacy)

Perasaan kebahagiaan karena merasa kedekatan dengan Allah yang sangat dicintainya. Uns  membuat seseorang merasakan keterharuan, keterpesonaan dan sentuhan keindahan.

  • الطمأنينة  ( Tentram)

Merupakan suasana ketentraman hati oleh sesuatu yang lain.

  • المشاهدة  (Penyaksian)

Adalah kehadiran qalbu dengan sifat yang nyata tanpa dibayangkan, senantiasa penuh dengan suka cita setiap saat.

  • اليقين  (Yaqin)

Adalah keyakinan yang kuat terhadap suatu kebenaran berdasarkan kesaksian atas realitas seluruh aspek yang ada.

Perbedaan antara Maqamat dan Ahwal

Berdasaran uraian diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaan antara Maqamat dan Ahwal adalah sebagai berikut :

Maqamat merupakan station atau tahapan – tahapan yang harus dilalui orang seorang sufi untuk mencapai tingkatan tertentu dalam tasawuf.

Sedangakn Ahwal adalah keadaan yang dirasakan sufi tatkala mereka menempuh maqam-maqam tertentu.


[1] Ibid hal 77-78

[2] Tohir, Moenir Nahrowi. Menjelajah Eksistensi Tasawuf: Meniti Jalan Menuju Tuhan. Jakarta: Penerbit PT. As-Salam Sejahtera. 2012. Hal 101-105


[1] Syamsun Ni’am. Tasawuf Studies: Pengantar Belajar Tasawuf. Yogyakarta: Ar Ruzz Media. 2014. Hlm 138.

[2] Simuh. Tasawuf Dan Perkembangannya Dalam Islam.Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1996. Hlm 73.


[1] Nasution, Harun. Falsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1995. Hlm 67.

[2] Ibid, Hlm 68.

[3] Ibid, Hlm 68.

[4] Ibid, Hlm 68.

[5] Nasution, Harun. Falsafat Dan Mistisisme Dalam Islam. Jakarta: Bulan Bintang. 1995. Hlm 68.

[6] Ibid, Hlm 69.


[1] Syamsun Ni’am. Tasawuf Studies: Pengantar Belajar Tasawuf. Yogyakarta: Ar Ruzz Media. 2014. Hlm 137.

[2] Ibid. Hlm 137.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *