larangan bersifat takabur dan perintah bersifat tawadhu
Photo by Ali Arapoğlu on Pexels.com

Larangan Bersifat Takabur dan Perintah Bersifat Tawadhu dalam Islam

Diposting pada

“Negeri akhirat (surga) kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi dan kesudahan baik itu bagi orang-orang yang bertaqwa.” (Q.S. Al Qasas: 83)

Di dalam ayat ini, Allah Swt menjelaskan bahwa surga itu diperuntukkkan bagi orang yang tidak sombong.

Adapun sombong adalah sifat yang dibenci Allah dan Rasul-Nya. Kebalikan sombong adalah Tawadhu’.

Dengan demikian Allah menghendaki setiap muslim memiliki sifat-sifat yang terpuji diantaranya adalah Tawadhu’.

Sehubungan Tawadhu’ itu lawan dari sombong (Takabbur), maka berusaha menjauhkan diri dari sifat sombong akan lebih mudah meraih sifat Tawadhu’.

Nabi bersabda:

“Dari Ibnu Mas’ud r.a., Rasululah Saw bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan (Takabbur) walapun seberat dzarrah. Maka ada seorang bertanya (Muadz bin Jabal): Sesungguhnya seseorang senang bajunya bagus dan sandalnya bagus. Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah itu Jamil (bagus) mencintai hal-hal yang bagus: Sombong (Takabbur) itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia (orang lain).” (H.R. Muslim)

Dari hadis tersebut Nabi Saw menjelaskan kepada kita hakikat sombong yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

Kalau kita berbicara mengenai kebenaran, maka kebenaran itu hanyalah yang datang dari Allah dan Rasul-Nya yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadist.

Dan isi kandungannya sudah diamalkan oleh para sahabat, tabiin, tabiut tabiin, merekalah sebaik-baik generasi dalam mengamalkan syariat Islam.

Nabi Saw bersabda:

“Dari Abdullah r.a., Nabi Saw, Beliau bersabda: Sebaik-baik manusia adalah yang hidup pada masaku. Kemudian orang-orang pada masa berikutnya. Kemudian setelah mereka akan datang suatu kaum kesaksian mereka mendahului sumpah mereka dan sumpah mereka mendahului kesaksian mereka.” (H.R. Bukhari & Muslim)

Imam An-Nawawi berkata, zaman pertama yaitu Sahabat. Zaman kedua Tabiin. Zaman ketiga Tabiut Tabiin. (Syarah Imam Nawawi atas Sahih Muslim)

Jika kita ingin mempunyai sifat Tawadhu’ sebagaimana dikehendaki Rasul, maka ikutilah Tawadhu’-nya Nabi, Sahabat, Tabiin dan Tabiut Tabiin. Tawadhu’ terbagi dalam tiga hal:

Tawadhu’ kepada Allah, yaitu menerima seluruh syariat agama-Nya, tunduk kepada-Nya, tidak membantah dan mendebat, serta tidak menghadapi perintah-perintah-Nya dengan pikiran dan hawa nafsu.

Tawadhu’ kepada Rasul, yaitu berpegang teguh kepada sunnah-sunnahnya dan petunjuknya, selalu mengikuti sunnahnya dalam adab dan ketaatan tanpa menentang perintah-perintahnya dan larangan-larangannya.

Tawadhu’ kepada sesama makhluk, yaitu tidak bersikap sombong (Takabburi) kepada orang lain, mengenal hak-hak mereka dan menunaikan haknya bagaimanapun kondisi derajat mereka (walaupun lebih rendah). Kembali kepada yang haq dan ridha kepadanya dari manapun sumber munculnya kebenaran itu.

Fudlalil bin ‘Iyad berkata:

“Tawadhu’ yaitu jika engkau tunduk (patuh) kepada kebenaran dan mengikuti kebenaran itu, walaupun engkau mendengarnya dari anak kecil engkau terima. Walaupun engkau mendengar dari orang yang paling bodoh engkau menerimanya.” (Madarijus Salikin 2/329)

Abu Bakar as-Sidiq juga berkata:

“jangan sekali-kali seseorang meremehkan orang lain dari kaum muslimin karena sesungguhnya kecilnya muslimin itu besar di sisi Allah”

Hasan Al-Basri ditanya tentang Tawadhu’, jawabnya: “jika engkau keluar dari rumahmu dan engkau tidak bertemu dengan muslim yang lain kecuali engkau melihat dia lebih unggul (lebih baik) dari dirimu. (Al-Ihya’ 3/342)

Rasulullah Saw bersabda mengenai hal anjuran Tawadhu’ dan larangan Takabbur:

“Dari Iyadl bin Himar berkata: Rasulullah Saw: Sesungguhnya Allah memahyukan kepadaku agar kalian semua bersikap Tawadhu’ (merendahkan diri) sehingga seseorang tidak membanggakan diri terhadap orang lain dan seseorang tidak berbuat dhalim kepada yang lainnya” (H.R. Muslim)

Kesimpulan:

1. Allah menghendaki sifat Tawadhu’ bagi orang-orang yang taqwa.

2. Sifat Tawadhu’ adalah sifat yang mulia yang dimiliki oleh Nabi, Sahabat, dan Tabiin (Para Salafus Shalih)

3. Kebalikan Tawadhu’ adalah Takabbur (Sombong) dan sombong adalah sifat yang buruk yang harus dihindari.

4. Nabi mendefinisikan Takabbur yaitu menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *