kondisi perekonomian indonesia pada masa penjajahan jepang

Kondisi Perekonomian Indonesia pada Masa Penjajahan Jepang

Diposting pada

Masa pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun merupakan salah satu periode yang paling menentukan dalam sejarah Indonesia. Sebelum serbuan Jepang, tidak ada satupun tantangan yang serius terhadap kekuasaan Belanda di Indonesia.

Pada waktu Jepang menyerah, telah berlangsung begitu banyak perubahan luar biasa yang memungkinkan terjadinya revolusi Indonesia. Jepang memberi sumbangan langsung pada perkembangan-perkembangan tersebut.

Terutama di Jawa dan sampai tingkatan yang lebih kecil di Sumatera, mereka mengindoktrinasi, melatih, dan mempersenjatai banyak generasi muda serta memberi kesempatan kepada para pemimpin yang lebih tua untuk menjalin hubungan dengan rakyat.

Di seluruh Nusantara, mereka mempolitisasi bangsa Indonesia sampai pada tingkat desa dengan sengaja dan menghadapkan Indonesia pada rezim kolonial yang bersifat sangat menindas dan merusak dalam sejarahnya itu.

Dengan demikian, desa-desa secara keras digoncang dengan kelesuan dan isolasi politik yang terjadi pada akhir periode Belanda. Akhirnya, sesuatu yang paling menunjang adalah kekalahan Jepang dalam perang, karena andaikan tujuan mereka membentuk suatu Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya tercapai, maka hanya sedikit harapan bagi kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya (Ricklefs,2008:421).

Politik imperialisme Jepang di Indonesia berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam dan manusia. Jepang melakukan eksploitasi sampai tingkat pedesaan. Dengan berbagai cara, Jepang menguras kekayaan alam Indonesia melalui janji-janji maupun kekerasan. Kebijakan Jepang terhadap rakyat Indonesia pada prinsipnya diprioritaskan pada dua hal, yaitu menghapus pengaruh-pengaruh Barat di kalangan rakyat Indonesia, dan memobilisasi rakyat Indonesia demi kemenangan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya.

Berdasarkan pemaparan di atas, kami selaku penulis mengangkat makalah dengan tema keadaan ekonomi Indonesia pada masa pendudukan Jepang. Kami memilih judul “Kebijakan-Kebijakan Ekonomi Perang Pemerintah Jepang di Indonesia pada 1942-1945 dan Dampaknya bagi Rakyat Indonesia”, yang menjelaskan bagaimana kondisi perekonomian Indonesia pada masa itu. Karena begitu terpuruknya tingkat ekonomi kala itu, banyak rakyat yang menjadi korban dan Indonesia menderita banyak kerugian.

Proses Peralihan Kekuasaan dari Belanda ke Tangan Jepang

Dalam rencana penguasaannya terhadap Asia Tenggara (versi Jepang yaitu Wilayah Selatan), yang mereka anggap penting adalah menguasai dan mendapatkan sumber-sumber bahan mentah untuk industri perang, terutama sekali minyak bumi.

Dalam rencananya Wilayah Selatan dibagi menjadi dua bagian, yaitu wilayah A dan wilayah B. Wilayah A adalah beberapa koloni Inggris, Belanda dan Amerika Serikat yaitu Malaya, Kalimantan Utara, Hindia-Belanda, dan Filiphina.

Wilayah B meliputi beberapa koloni Prancis di daratan Asia Tenggara yaitu Vietnam, Laos dan Kamboja. Khususnya di wilayah A, Jepang tidak hanya bermaksud untuk menguasai wilayah sumber ini, tetapi juga untuk memotong garis perbekalan musuh yang bersumber dari wilayah ini (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia,2010:75).

Jepang memperkirakan perang akan berlangsung lama sehingga penguasaan wilayah yang kaya akan bahan mentah ini sangat meringankan beban yang dipikulnya.

Rencana Jepang itu akan dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama merupakan tahap penguasaan dan tahap kedua merupakan rencana jangka panjang, yaitu menyusun dan mengarahkan kembali perekonomian wilayah tersebut dalam rangka menopang upaya perang Jepang dan rencana-rencananya bagi dominasi ekonomi jangka panjang terhadap Asia Timur dan Asia Tenggara (Ricklefs,2008:424).

Struktur ekonomi yang direncanakan akan bertumpu pada wilayah-wilayah ekonomi yang sanggup memenuhi kebutuhan sendiri, yang diberi nama Wilayah Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia,2010:75).

Pada bulan Maret 1942, Jepang berhasil merebut Hindia-Belanda sesuai dengan rencana. Sebelumnya, pemerintah Hindia-Belanda telah memperhitungkan bahwa invasi Jepang tidak dapat ditahan lagi, maka mulailah dilaksanakan aksi bumi hangus.

Objek-objek vital dihancurkan, yang sebagian besar terdiri atas aparat produksi. Akibatnya, pada awal pendudukan Jepang, hampir seluruh kehidupan ekonomi lumpuh. Kehidupan ekonomi sepenuhnya berubah dari keadaan normal menjadi ekonomi perang (Tim Nasional Penulisan Sejarah Indonesia,2010:76).

Padahal, pada awal mulanya tujuan Jepang yaitu untuk mengamankan pasokan bahan-bahan mentah yang strategis untuk Jepang, seperti minyak, karet, timah, dan bahan-bahan logam lainnya (Booth 1998:47; Reid 1980:19: Brugmans et. Al. 1960: 253 dalam van Zanden,2012:273-274).

Kebijakan Ekonomi pada Masa Penjajahan Jepang

Seluruh kegiatan perekonomian diarahkan untuk berbagai kepentingan perang

Beberapa diantaranya adalah Sebagian besar potensi sumber daya alam dan berbagai bahan mentah yang dapat diolah menjadi berbagai mesin yang dibutuhkan saat berperang.

Sebagai akibat dari terlalu memfokuskan kebijakan ekonomi untuk kepentingan perang, banyak lahan lahan pertanian yang terbengkalai dan pada akhirnya menimbulkan bencana kelaparan akibat menurunnya produksi pangan.

Selain ini, kemiskinan pun meningkat drastis. Hal ini menjadi lebih parah ketika Jepang menyita seluruh hasil perkebunan, pabrik, bank dan perusahaan penting yang membuat penderitaan warga semakin bertambah.

Pada saat penjajahan, Jepang menerapkan sistem pengawasan ekonomi yang ketat

Jepang mengawasi berbagai peredaran dan penggunaan barang barang sisa dan terus menerus memantau harga agar tetap terkendali dan mencegah adanya peningkatan harga.

Selain ini, Jepang juga melakukan monopoli penjualan terhadap sektor perkebunan. Mereka melakukan pembatasan peredaran produk kopi, karet, teh, tembakau, dan tebu dengan alasan kebutuhan perang.

Penerapan sistem ekonomi untuk perang dan sistem autarki

Sistem ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan daerah sendiri dan menunjang kegiatan perang, yang pada akhirnya tenaga rakyat dan semua kekayaan dikorbankan untuk kepentingan perang.

Jepang memaksa warga pribumi untuk melakukan kegiatan pertanian yang dibutuhkan oleh Jepang dan kemudian hasilnya dirampas oleh Jepang, contohnya seperti menanam tanaman jarak yang kemudian buahnya dapat dijadikan pelumas untuk mesin pesawat terbang serdadu Jepang.

Jepang melakukan kampanye

Pada tahun 1944, Jepang melakukan kampanye dan mengumumkan bahwa warga pribumi harus menyerahkan berbagai bahan pangan dan barang barang mereka untuk memenuhi kebutuhan perang yang semakin meningkat. Penyerahan itu dilakukan melalui Jawa Hokokai dan Nagyo Kumiai (koperasi pertanian), serta instansi resmi pemerintah.

Dampak Kebijakan Ekonomi Jepang

Jepang dipercaya orang Indonesia akan membawa Indonesia ke arah yang lebih baik. Apalagi tersiar kabar bahwa Jepang akan membawa perubahan ekonomi ke arah yang lebih baik, kabar ini diikuti dengan menurunnya harga makanan. Di awal pendudukan Jepang kondisi ekonomi Indonesia tidaklah stabil. Harga makanan, barang dan jasa naik-turun tidak terprediksi.

Sebagai proyek pertama Jepang di Indonesia adalah usaha untuk menghasilkan lebih banyak lagi hasil bahan pangan. Dan mulailah dilakukan beberapa pengajaran seputar pertanian.

Cara menanam benih secara tradisional yang seenaknya diubah menjadi cara tanam baris-berbaris, sehingga akan terdapat ruang yang ada di sela-sela padi dan meminimkan petani untuk menginjak padi yang telah ditanam. Introduksi bibit padi yang baru mulai dilakukan, teknikteknik baru untuk menanam padi mulai digunakan, dan cara-cara baru untuk membuat pupuk kompos dari sampah buangan mulai dipraktekkan . 

Cara yang sama juga diterapkan dalam bidang peternakan.Kabar gembira ini tak berlangsung lama, rupanya rakyat Indonesia belum mengetahui bahwa tujuan utama Jepang memajukan sektor ekonomi Indonesia semata hanya untuk menunjang kepentingan perang Jepang.

Pemerintah Jepang akhirnya mengeluarkan peraturan-peraturan baru guna mengendalikan dan mengatur kembali hasil bumi Indonesia. Keadaan ini diperburuk dengan putusnya hubungan kerja sama dengan pasar ekspor tradisional. Kondisi demikian terjadi secara bersamaan dan semakin menabah keruh perekonomian Indonesia.

Untuk menangani masalah demikian pemerintah Jepang memilih untuk memperbanyak dalam mencetak mata uang. Akibatnya terjadilah Inflansi  , disebabkan karena Jepang tidak sanggup mengendalikan nilai mata uang dan tidak mampu menampung semua hasil ekspor Indonesia.

Warga- Warga pribumi dipaksa untuk memenuhi kebutuhan perang Jepang. Mereka harus meningkatkan produksi pertanian dan semuanya harus diserahkan atau diambil paksa oleh Jepang. Selain itu rakyat Indonesia diharuskan menyerahkan hewan peliharaan mereka. Ini dilakukan untuk mencukupi kebutuhan perang Jepang.

Petani juga diwajibkan menanam tanaman jarak karena buahnya dapat dijadikan pelumas untuk mesin pesawat terbang serdadu Jepang. Tak terbayang bagaimana penderitaan yang dialami rakyat Indonesia kala itu, mereka dipaksa bekerja ekstra dan tak dapat menikmati hasil jerih payahnya sendiri karena sebagian besar diambil oleh serdadu Jepang. Rakyat Indonesia harus cukup senang dengan makan jagung dan ubi seadanya.

Kondisi fisik rakyat Indonesia kala itu sangat memprihatinkan. Kebanyakan rakyat Indonesia memakai karung goni sebagai baju, tubuh kurus kering, kulit hitam legam karena sering terkena terik matahari mata cekung karena kurang istirahat ditambah dengan adanya luka seperti korengan yang bernanah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *