kebudayaan islam
Photo by Haley Black on Pexels.com

Kebudayaan Islam: Pengertian, Unsur-unsur, Sejarah, dan Karakteristik

Diposting pada

Pengertian Kebudayaan Islam

Dari segi etimologis, kata kebudayaan adalah kata dalam bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Sansekerta buddhi yang berarti intelek (pengertian).

Kata buddhi berubah menjadi budaya yang berarti “yang diketahui atau akal pikiran”.

Budaya berarti pula pikiran, akal budi, kebudayaan, yang mengenai kebudayaan yang sudah berkembang, beradab, maju.

Dari pengertian budaya di atas, dapat diutarakan dengan bahasa lain bahwa kebudayaan merupakan gambaran dari taraf berpikir manusia.

Tinggi-rendahnya taraf berpikir manusia akan terlihat pada hasil budayanya.

Kebudayaan merupakan cetusan isi hati suatu bangsa, golongan, atau individu.

Tinggi-rendahnya, kasar-halusnya pribadi manusia, golongan, atau ras, akan terlihat pada kebudayaan yang dimiliki sebagai hasil ciptaannya.

Maka dapat juga dikatakan bahwa kebudayaan merupakan orientasi dan pola pikir manusia, golongan, atau bangsa.

Kebudayaan merupakan suatu konsep yang sangat luas ruang lingkupnya. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang timbulnya suatu kebudayaan itu sendiri.

kebudyaan Islam dapat dipahami sebagai hasil olah akal, budi, cipta, karya, karsa, dan rasa manusia yang bernafaskan wahyu ilahi dan sunnah Rasul.

Yakni suatu kebudayaan akhlak karimah yang muncul sebagai implementasi Al-Qur’an dan Al-Hadist di mana keduanya merupakan sumber ajaran agama Islam, sumber norma dan sumber hukum Islam yang pertama dan utama.

Dengan demikian kebudayaan Islam dapat dipilah menjadi tiga unsur prinsipil, yaitu kebudayaan Islam sebagai hasil cipta karya orang Islam, kebudayaan tersebut didasarkan pada ajaran Islam, dan merupakan pencerminan dari ajaran Islam.

Unsur-unsur Pembentuk Kebudayaan Islam

  • Sistem politik

Dalam sistem politik islam corak pemerintahan negara adalah teokrasi Rasulullah sebagai pemimpin negara yang mengatur pemerintahan sekaligus pemimpin agama, dan Al-Qur’an sebagai dasar pembuatan undang undang.

Sementara kedaulatan mutlak ada di tangan Allah SWT.

Untuk mengendalikan pemerintahan nabi di Madinah sudah ada sebuah sekretariat negara.

  • Sistem ekonomi

Ada dua bidang yang menjadi landasan sistem ekonomi sebagai salah satu pilar  yang membentuk kebudayaan islam.

Yakni pertanian dan perdagangan, sebelum datang islam masyarakat Arab telah mengenal berbagai alat pertanian untuk menanam, penggunaan hewan ternak untuk membantu pekerjaan petani, demikian pula sistem irigasi untuk menyuburkan tanah selain itu mereka juga telah mengenal teknik penyilangan pohon tertentu untuk mendapatkan bibit unggul.

  • Sistem kemasyarakatan

Masyarakat islam merupakan masyarakat yang Rabbani, insani, akhlaqi, dan masyarakat yang seimbang ( tawazun ).

Masyarakat islam dituntut untuk bisa memperkuat agama mereka, membentuk kepribadian mereka, dan bisa hidup dibawah naungan-Nya dengan kehidupan yang islami yang sempurna.

Diarahkan oleh akidah islamiah dan dibersihkan dengan ibadah, dituntun oleh pemahaman yang shahih terikat dengan moralitas dan adab islamiah, serta diwarnai oleh nilai-nilai Islam.

  • Ilmu pengetahuan

Kemajuan yang diraih umat islam tidak dapat dipisahkan dari perkembangan ilmu pengetahuan.

Sejak kedatangannya, islam selalu mengadakan penelitian san eksplorasi terhadap segala sesuatu yang belum pernah diketahui sebelumnya sehingga menjadi suatu penemuan yang bermanfaat bagi kesejahteraan manusia.

Islam banyak melahirkan ilmuwan ilmuwan yang ilmunya dapat bermanfaat bagi orang banyak.

Sejarah Perkembangan Kebudayaan Islam

Ada banyak faktor penyebab proses pertumbuhan peradaban Islam.

Namun secara garis besar dapat dibagi menjadi dua faktor penyebab tumbuh berkembangnya peradaban Islam, hingga mencapai lingkup mondial, yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

Faktor pertama (internal) berasal dari dalam norma-norma atau ajaran Islam sendiri.

Faktor kedua(eksternal) pada hakikanya merupakan implikasi dari faktor pertama.

Motivasi internal yang begitu kuat telah mengkristal dalam kehidupan umat Islam sejalan dengan perkembangan sejarah, dan nilai-nilai atau norma-norma ajaran Islam menjiwai dalam setiap kehidupannya.

Tonggak-tonggak sejarah peradaban Islam, tak pernah lepas dari sejarah intelektual Islam.

Untuk memahami dengan baik perkembangan tersebut, idealnya diperlukan pemahaman yang memadai tentang periodisasi sejarah perkembangan Islam.

Dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Harun Nasution, dilihat dari segi perkembangannya, sejarah intelektual Islam dapat dikelompokkan ke dalam tiga masa, yaitu: masa klasik antara 650-1250 M, masa pertengahan antara tahun 1250-1800 M, dan masa modern antara tahun 1800 sampai sekarang.

Pada masa klasik, lahir ulama’ mahzab, seperti: Imam Hanafi, Imam Hambali, Imam Syafi’i , dan Imam Maliki. Sejalan dengan itu lahir pula filosof muslim pertama,Al-Kindi 801 M.

Di antara pemikirannya, ia berpendapat bahwa kaum Muslimin menerima filsafat sebagai bagian dari kebudayaan Islam.

Selain, Al-Kindi, pada abad itu lahir pula filosof besar seperti: Al-Razi (865 M) dan Al-Farabi (870 M).

keduanya dikenal sebagai pembangun agung sistem filsafat. Pada abad berikutnya, lahir filosof agung Ibn Miskawaih 930 M.

Pemikirannya yang terkenal tentang pendidikan akhlak. Kemudian Ibn Sina tahun 1037 M, Ibn Bajjah tahun 1138 M, Ibn Tufail tahun 1147 M, dan Ibn Rusyd tahun 1126 M.

Masa pertengahan dalam catatan sejarah pemikiran Islam masa kini, merupakan fase kemunduran karena filsafat mulai dijauhkan dari umat Islam sehingga ada kecenderungan akal dipertentangkan dengan wahyu, iman dengan ilmu, dunia dengan akhirat.

Pengaruhnya masih ada sampai sekarang.

Sebagai pemikir muslim kontemporer sering melontarkan tuduhan pada Al-Ghazali sebagai orang pertama yang menjauhkan filsafat dari agama. Sebagaimana tertuang dalam tulisannya “Tahafut al-Falasifah” (Kerancuan Filsafat).

Tulisan Al-Ghazali dijawab oleh Ibn Rusyd dengan tulisan Tahafut al-Tahafut (Kerancuan di atas kerancuan).

Karakteristik Kebudayaan Islam

Beberapa landasan yang menjadi ciri atau karakteristik yang terdapat dalam kebudayaan Islam sebagai berikut.

  • Kesatuan

Peradaban Islam menempatkan unsur-unsur dalam bangunan rapi dan mengatur eksistensi serta hubungannya berdasarkan pola yang seragam.

Unsur itu ada yang asli ada yang dari luar.

Hal yang terpenting adalah peradaban mencerna unsur itu, yaitu memola kembali bentuk dan hubungannya sehingga menyatu ke dalam sistemnya sendiri (Al-Faruqi, 1986:112).

  • Rasionalisme

Rasionalisme membentuk intisari peradaban Islam. Rasionalisme terdiri atas 3 aturan atau hukum, yaitu :

  1. Menolak semua yang tidak berkaitan dengan realitas.

Melindungi seorang muslim dari membuat pernyataan yang tidak teruji atau tidak jelas terhadap ilmu pengetahuan.

Pernyataan yang kabur menurut Al-Qur’an, merupakan contoh dzann, yaitu pengetahuan yang menipu dan dilarang oleh Tuhan sekalipun tujuannya dapat diabaikan.

2. Menafikkan hal-hal yang sangat bertentangan.

Melindunginya dari kontradiksi di satu pihak dan paradox di pihak yang lain.

Rasionalisme bukan berarti pengutamaan akal atas wahyu, melainkan penolakkan terhadap kontradiksi puncak antara keduanya.

Muslim yang cerdas adalah seorang rasionalis karena menegaskan kesatuan dua sumber kebenaran, yaitu wahyu dan akal.            

3. Terbuka terhadap bukti baru dan/atau berlawanan.

Melindungi seorang muslim dari literalisme, fanatisme, dan konservatisme yang menyebabkan stagnasi.

Hukum ketiga ini mencondongkannya pada kerendahan hati intelektual dan memaksanya menambahkan pada penegasan dan penyangkalannya ungkapan “Allahu a’lam”(Allah yang lebih tahu).

Karena dia yakin bahwa kebenaran lebih besar daripada yang dapat dikuasainya.

  • Toleransi

Toleransi adalah keyakinan bahwa Tuhan tidak membiarkan umat-Nya tanpa mengutus rasul dari mereka sendiri.

Toleransi adalah keyakinan bahwa keanekaragaman agama terjadi karena sejarah dengan semua faktor yang mempengaruhinya.

Di balik keanekaragaman agama berdiri al-din al-hanif, agama fitrah Allah, dengan manusia lahir bersamanya sebelum akulturasi membuat manusia menganut agama ini atau itu.

Toleransi menuntut seorang muslim untuk mempelajari sejarah agama-agama, yang bertujuan untuk menemukan dalam setiap agama karunia awal Tuhan yang disampaikan Rasul-rasul yang diutus-Nya di segenap tempat dan waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *