larangan bersifat takabur dan perintah bersifat tawadhu
Photo by Ali Arapo─člu on Pexels.com

Inilah Syarat-syarat agar Doa Kita Dikabulkan Allah

Diposting pada

Setiap kita berdoa, tentu mengharapkan terkabulnya doa itu.

Karena itulah, pada tulisan kali ini redaksi Matang Dream akan mengulas tentang syarat-syarat agar doa kita dikabulkan Allah Swt menurut Al Qur’an dan Hadis.

Senantiasa dalam Kebenaran dengan Penuh Keimanan

Allah Swt berfirman,

“…Aku akan kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)Ku, agar mereka selalu dalam kebenaran.” (Q.S. al Baqarah: 186)

Menurut ayat tersebut, Allah Swt akan mengabulkan doa hamba-Nya yang hidupnya selalu dalam kebenaran, ketaatan, dan keimanan.

Baik dalam hal ibadah, muamalah, maupun akhlak.

Beristighfar (Minta Ampun) kepada Allah Swt sebelum Berdoa

Allah Swt berfirman di dalam surat Nuh ayat 10-12,

“Maka saya (Nabi Nuh) berkata, “Mohonlah ampunan kepada Tuhan-mu, sesungguhnya DIa adalah maha pengampun (10). Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat (11). Dan membanyakkan harta dan anakmu, dan mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu (12)”. (Q.S. Nuh: 10-11)

Ayat tersebut memerintahkan hendaklah kita memohon ampunan kepada Allah Swt, niscaya Dia akan mengampuni.

Bahkan akan memberikan anugerah berupa kenikmatan yang menyenangkan yang biasanya sangat didambakan oleh setiap manusia, yakni harta bendam anak-anak, dan lain-lain.

Maka dari ayat ini dapat kita pahami, bahwa sebelum berdoa, hendaklah kita memohon ampunan terlebih dahulu.

Berprasangka Baik kepada Allah Swt

“Nabi bersabda, Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Saya berada pada persangkaan hambaKu kepadaKu, dan Saya bersamanya ketika berdoa kepadaKu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menerangkan bahwa Allah Swt di dalam persangkaan hamba-Nya dan Dia bersama hamba-Nya itu ketika ia memohon kepada-Nya.

Maksudnya, apabila seorang hamba berdoa kepada Allah Swt denga persangkaan baik, bahwa Allah Swt akan mengabulkan.

Maka Dia akan membalas persangkaan baik itu dengan kebaikan, yakni lebih besar kemungkinan terkabulnya permohonan itu.

Yakin akan Dikabulkan dan dengan Hati yang Tidak Lalai

“Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Hati-hati itu adalah tempat penyimpanan/ pengumpulan sesuatu dan sebagainnya lebih peka dari pada yang lain. Maka apabila kamu memohon kepada Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi wahai manusia, memohonlah kepadaNya sedang kamu yakin akan dikabulkan, karena sesungguhnya Allah tidak mengabulkan (doa) seorang hamba yang berdoa kepadaNya dengan hati yang lalai.” (H,R. Ahmad)

Hati adalah ibarat satu tempat penampungan atau penyimpanan segala sesuatu.

Apapun dapat tertampung dan tersimpan di dalam hati, baik yang disukai ataupun yang dibenci, yang besar ataupun yang kecil, yang sudah dimiliki ataupun yang masih dalam angan-angan.

Iman tempatnya di hati. Yakin akan sesuatu atau meragukannya, keyakinan, dan kraguan itupun tempatnya di hati.

Berdoa Langsung kepada Allah Swt

Berdoa untuk diri sendiri atau mendoakan orang lain hendaklah langsung dihadapkan/ ditujukan kepada Allah Swt dengan tidak memakai perantara apapun, baik berupa benda-benda tertentu, orang yang sudah meninggal, keutamaan/ kekeramatan sesuatu, dan lain-lain.

“Karena berdoa adalah Ibadah” (H.R. Abu Dawud, Tirmidzi)

Oleh karenanya ibadah harus langsung kepada Allah Swt.

“Hanya kepada-Mu-lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu-lah kami memohon pertolongan”. (Q.S. Al Faatihah: 5)

Tidak Maksiat dan tidak Memutuskan Tali Silaturrahim

“Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Tetaplah dikabulkan (doa) bagi seorang hamba, selama ia tidak berdoa dengan disertai (perbuatan) dosa atau memutus tali persaudaraan (silaturrahim)…” (H.R. Muslim dan Tirmidzi)

Sabar dalam Berdoa

Hendaklah berdoa dengan tekun, sabar, tidak bosan-bosan dan tidak tergesa-gesa untuk segera minta dikabulkan.

“Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Akan dikabulkan (doa) salah seorang dari kamu selama ia tidak tergesa-gesa, Dia mengatakan, “Saya telah berdoa tetapi tidak dikabulkan.” (H.R. Bukhari, Muslim, dll)

Dan di dalam riwayat Muslim dan Tirmidzi dikatakan, “…selama ia tidak minta segera”. Beliau ditanya (oleh salah seorang sahabat), “Wahai Rasulullah bagaimana ia minta segera itu?”, Beliau menjawab, “Ia berkata, sungguh saya telah berdoa, dan sungguh saya telah berdoa, tetapi saya tidak melihat (tidak yakin) doa saya itu dikabulkan.” Lalu ia lemah (jemu) berdoa, dan (akhirnya) meninggalkan doa itu.

Dengan Disertai Usaha

Allah Swt tidak akan merubah keadaan seseorang selama orang tersebut tidak berusaha dengan amalan nyata.

“Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah meghendaki keburukan suatu kaum, maka tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (Q.S. Ar Radu: 11)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *