assorted silver colored pocket watch lot selective focus photo
Photo by Giallo on Pexels.com

Hukum Memakai Jimat dalam Syariat Islam Berdasarkan Dalil Nash

Diposting pada

Jimat atau dalam Bahasa Arab disebut dengan tamimah, bentuk jamaknya adalah tama’im yaitu sesuatu yang digantungkan di leher atau di tempat lain, berupa mantra-mantra, kantong berjahit, tulang, dan lain-lain, dengan tujuan untuk mendatangkan manfaat datu menolak mudharat.

Semakna dengan definisi di atas, tamimah adalah sesuatu yang dikalungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit ‘ain , dan juga dikalungkan pada orang-orang dewasa, termasuk para wanita.

“Diriwayatkan dari Abu Basyir al-Anshari r.a., bahwa dia pertnah bersama Rasulullah Saw dalam satu perjalanan beliau. Lalu beliau mengutus seseorang utusan (untuk mengumumkan), “Supaya tidak terdapat lagi di leher unta kalung (jimat) dari tali busur panah atau kalung apapun, kecuali harus diputuskan.” (Muttafaq Alaih)

Tamimah ada dua macam, yaitu tamimah yang diambil adi Al Qur’an dan tamimah yang diambil selain dari Al Qur’an.

Tamimah yang diambil dari Al Qur’an yaitu menulis ayat-ayat kemudian dikalungkan di leher untuk memohon kesembuhan dengan perantaranya.

Para ulama berbeda pendapat tentang hukum mengalungkan tamimah jenis ini.

Akan tetapi pendapat yang benar adalah diharamkan.

Hal ini didasarkan pada larangan Nabi Saw serta tidak ada dalil yang mengkhususkan.

Adapun menggantungkan tulisan ayat Al Qur’an untuk perhiasan atau agar dibaca ketika melihatnya, misalkan di dinding rumah, di pintu, di kendaraan, maka hal itu diperbolehkan.

Kemudian tamimah yang diambil selain dari Al Qur’an, yaitu mengkalungkan atau meletakan jimat mantra di leher atau di tempat lain.

Tamimah jenis ini diharamkan dan termasuk syirik karena menggantungkan selain Allah.

Hal ini berdasar dalil-dalil nash,

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya, barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” (Q.S. an-Nisa: 48)

“Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir r.a., ada sepuluh orang lelaki datang menghadap Rasulullah Saw dengan mengendarai kendaraan. Lalu Rasulullah membaiat sembilan orang di antara mereka, sedang yang satu tidak dibaiat. Para sahabat kemudian bertanya, “Ya Rasulullah mengapa yang satu orang itu tidak dibaiat?” Jawab Rasulullah, “Sebab di lengannya terdapat jimat. “Kemudian lelaki itu melepas jimatnya, dan Rasulullah pun membaiatnya. Kemudian Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa memakai jimat maka dia telah musyrik.” (H.R. Ahmad dan al-Hakim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *