brown book page
Photo by Wendy van Zyl on Pexels.com

Epistemologi Filsafat Ilmu: Pengertian, Sumber-sumber, dan Aliran

Diposting pada

Pengertian Epistimologi

Epistemologi berasal dari Bahasa Yunani, Episteme dan Logos. Episteme biasa diartikan pengetahuan atau kebenaran, dan Logos diartikan pikiran, kata, atau teori. Secara etimologi Epistemologi dapat diartikan, teori pengetahuan yang benar, dan lazimnya hanya disebut teori pengetahuan yang dalam bahasa Inggrisnya menjadi Theory of Knowledge.[1]

Epistemologi (ma’rifah) dalam bahasa Arab mempunyai banyak penggunaan, tetapi lazimnya berarti pengetahuan (knowledge), kesadaran (awareness), dan informasi. Adakalanya digunakan dalam arti pencerahan khusus (idrak juz’i/ particular perception), kadang-kadang juga dipakai dalam arti ilmu yang sesuai dengan kenyataan dan melahirkan kepastian dan keyakinan. Pengetahuan yang menjadi pokok bahasan epistemologi boleh jadi mempunyai salah satu pengertian tersebut atau pengertian lainnya.

Pembahasan mengenai epistemologis tidak terbatas pada satu jenis pengetahuan. Konsep pengetahuan merupakan salah satu konsep paling jelas dan nyata (badihi/ self-evident). Epistemologis dapat didefinisikan sebagai “bidang ilmu yang membahas pengetahuan manusia, dalam berbagai jenis dan ukuran kebenaran.”

Teori epistemologi bertalian erat dengan persoalan idea. Menurut Plato pengetahuan (ma’rifah) tidak lain adalah pengingatan kembali, artinya apabila pancaindera kita berhadapan dengan sesuatu, maka teringatlah kita akan contoh-contohya (mutsul), dan muncullah kembali pengetahuan yang kita peroleh sewaktu kita masih hidup dalam suatu alam, dimana kita dapat melihat ide yang azali dengan jalan pengabstrakan terhadap gambaran-gambaran dari wujud-wujud inderawi.

Dan karena epistemologi adalah bagian filsafat yang membicarakan Tentang “bagaimana kita mendapatkan pengetahuan?” sehingga untuk memperoleh jawabannya, kita harus terlebih dahulu mengetahui sumber pengetahuannya dan tentang terjadinya pengetahuan maupun asal mulanya pengetahuan. Dan harus menggunakan metode ilmiah sehingga pengetahuan itu dapat dipastikan kebenarannya.[2]

Sumber-sumber Epistemologi

Pada dasarnya terdapat dua cara yang pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Sedangkan Sumber pengetahuan itu sediri adalah apa yang menjadi titik tolak atau apa yang menjadi objek pengetahuan. Sumber itu dapat bersifat atau berasal dari “dunia eksternal” atau juga terkait dan berasal dari “dunia internal” atau kemampuan subjek.[1]

Dalam sejarah filsafat, Plato dan Aristoteles adalah dua filsuf yang memiliki pandangan yang berbeda terkait sumber pengetahuan. Plato disebut juga sebagai seorang rasionalisme klasik (sementara tokoh rasionalisme Modern adalah Descartes, Spinoza, Leinbniz).

Tokoh rasionalisme ini berpandangan bahwa sumber pengetahuan itu adalah rasio. Dengan kata lain, rasionalisme menempatkan posisi rasio (akal) sebagai sumber terpercaya dan utama bagi pengetahuan. Kaum rasionalis percaya bahwa proses pemikiran abstrak (rasional) dapat mencapai pengetahuan dan kebenaran fundamental yang tidak dapat disangkal tentang (a) apa yang “ada” (tentang realitas) dan strukturnya serta (b) tentang alam semesta pada umumnya.

Menurut kaum rasionalis, realitas dan beberapa kebenaran tentang realitas dapat dicapai tanpa tergantung pada pengamatan (pengalaman) atau tanpa menggunakan metode empiris. Karena itu, pengetahuan seperti ini sering disebut pengetahuan a priori (a priori knowledge, neceserry knowledge) –a priori: a = dari, dan prior= yang mendahului, berarti tidak tergantung atau mendahului pengalaman. Jadi pengetahuan a priori artinya pengetahuan yang diperoleh tanpa melalui pengalaman. Adapun cara kerja kaum rasionalis adalah berdasarkan penalaran deduktif, logis, dan matetamtis.

Sementara itu, Aristoteles berpandangan besebrangan dengan gurunya, Plato. Baginya, sumber pengetahuan adalah pengalaman. Aristoteles adalah tokoh empiris klasik (sementara itu tokoh-tokoh empiris Modern seperti Fancis Bacon, Jhon Lock, Berkeley, David Hume).

Tokoh empirisme ini menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus didasarkan atas metode empiris eksperimental, sehingga kebenarannya dapat dibuktikan. Empirisme dalam ilmu pengetahuan ini dalam perkembangan berikutnya kelak berkembang menjadi aliran positivisme, yang merumuskan pembendaan antara ilmu pengetahuan (science) dengan non-ilmu melalui kriteria verifikasi.

Dalam epistemologi Barat, dua pandangan ini, yakni rasionalisme dan empirisme, merupakan dua aliran yang paling banyak diterima dan paling dominan di antara sumber pengetahuan lainnya.

Namun, di samping dua pandangan tersebut, ada juga beberapa pandangan yang menyebutkan sumber pengetahuan di luar rasionalisme dan empirisme tersebut. Bertrand Russell, membedakan dua macam pengetahuan.

Yaitu pertama adalah pengetahuan melalui pengalaman (knowledge by acquaintance) di antaranya yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui (a) data indrawi (sense data), (b) benda-benda memori (objects of memory), (c) keadaan internal (internal states) dan (d) diri kita sendiri (ourselves). Adapun yang kedua adalah pengetahuan melalui melalui deskripsi (knowledge by description), yaitu pengetahuan yang diperoleh melalui  (a) orang lain dan (b) benda-benda fisik, namun bukan hasil pengamatan akan tetapi konstruksi.[2]

Adapun Ted Honderich (1995: 931) mengemukakan beberapa sumber pengetahuan (sources of knowledge). Honderich mengemukakan bahwa rasionalisme, dan empirismetermasuk sumber pengetahuan. Namun selain dua hal tersebut Honderich juga memasukan sumber-sumber pengetahuan yang lain yakni memory, introspection, precognition serta sumber-sumber lain.

Seperti yang terlihat ada pandangan yang sama ada juga yang berbeda terakit dengan sumber pengetahuan antara Hosper dan Honderich.[3]

Di makalah ini akan diterangkan sebisa mungkin menyangkut sumber-sumber pengetahuan yang di cantumkan oleh Hosper dan Honderich.

1.      Perception (persepsi/ pengamatan indrawi)

Persepsi adalah hasil tanggapan indrawi terhadap fenomena alam. Adapun istilah yang lebih umum untuk istilah persepsi ini adalah empiri atau pengalaman (empeiria; experiential). Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang diterima dalam epitemologi (Barat dan Islam).

2.      Memory (ingatan)

Pengetahuan, baik secara teoritis maupun praktis, banyak sekali mengandalkan ingatan. Pengalaman langsung ataupun tidak langsung harus didukung oleh ingatan agar hasil pengalaman itu dapat disusun secara logis dan sitematis (menjadi pengetahuan).

3.      Reason (akal, nalar)

Akal diterima sebagai salah satu sumber pengetahuan. Adapun pikiran atau penalaran adalah hal yang paling mendasar bagi kemungkinan adanya pengetahuan. Penalaran adalah proses yang harus dilalui dalam menarik kesimpulan. Ada hubungan yang erat antara metode (metodologi) dengan logika (penalaran).

4.      Intropection (introspeksi)

Introspeksi juga dianggap sebagai sumber pengetahuan di mana manusia mendapatkan pengetahuan (pengetahuan atau pemahaman terhadap sesuatu) ketika ia mencoba melihat kedalam dirinya. Socrates pernah menyatakan “Kenalilah Dirimu Sendiri”.

5.      Intuition (intuisi)

Intuisi adalah “tenaga rohani”, suatu kemampuan yang mengatasi rasio, kemampuan untuk menyimpulkan serta memahami secara mendalam. Intuisi adalah pengenalan terhadap sesuatu secara langsung dan bukan melalui inferensi logis (deduksi-induksi). Intuisi merupakan kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan secara tiba-tiba dan secara langsung.  

6.      Authority (otoritas)

Otoritas mengacu pada individu atau kelompok yang dianggap memiliki pengetahuan sahih dan memiliki legitimasi sebagai sumber pengetahuan. Ototitas juga dapat berasosiasi atau berate negatif bila otoritas itu bersifat dominasi, menindas dan otoritasnya tidak abash. Otoritas ini dapat memasuki dunia politik, kehidupan religius dan moral.

7.      Precognition (prakognisi)

Prakognisi ialah kemampuan untuk mengetahui sesuatu peristiwa yang akan terjadi.

8.      Clairvoyance

Clairvoyance adalah kemampuan mempersepsi suatu peristiwa tanpa menggunakan indra. Seorang ahli nujum mampu mengetahui barang anda yang hilang beberapa hari yang lalu, maka orang ini memiliki kemampuan Clairvoyance.

9.      Telepathy (telepati)

Telepati adalah kemampuan berkomunikasi tanpa menggunakan suara atau tanpa menggunakan bentuk simbolik lain, namun hanya dengan kemampuan mental. Misalnya jika seseorang dapat mengetahui pikiran orang lain tanpa menggunakan salah satu bentuk komunikasi.

Aliran-aliran Epistemologi

1.    Empirisme

Kata empiris berasal dari kata yunani empieriskosyang berasal dari kata empiria, yang artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi. Manusia tahu es dingin karena manusia menyentuhnya, gula manis karena manusia mencicipinya.

John locke (1632-1704) bapak aliran ini pada zaman modern mengemukakan teoritabula rusa yang secara bahasa berarti meja lilin. Maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamannya mengisi jiwa yang kosong itu, lantas ia memiliki pengetahuan. Mula- mula tangkapan indera yang masuk itu sederhana, lama-lama sulit, lalu tersusunlah pengetahuan berarti.berarti, bagaimanapun kompleks (sulit)-nya pengetahuan manusia, ia selalu dapat dicari ujungnya pada pengalaman indera. Sesuatu yang tidak dapat diamati dengan indera bukan pengetahuan yang benar. Jadi, pengalaman indera itulah sumber pengetahuan yang benar.

Karena itulah metode penelitian yang menjadi tumpuan aliran ini adalah metode eksperimen. Kesimpulannya bahwa aliran empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia. Misalnya benda yang jauh kelihatan kecil, sebenarnya benda itu kecil ketika dilihat dari jauh sedangkan kalau dilihat dari dekat benda itu besar.

2.      Rasionalisme

Secara singkat aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Manusia, menurut aliran ini, menmperoleh pengetahuan melalui kegiatan akal menangkap objek. Bapak aliran ini adalah Descartes (1596-1650).

Descartes seorang filosof yang tidak puas dengan filsafat scholastic yang pandangannya bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh kurangnya metode berpikir yang tepat. Dan ia juga mengemukakan metode baru, yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu jelas ia sedang berpikir. Sebab, yang sedang berpikir itu tentu ada dan jelas ia sedang erang menderang. Cogito Ergo Sun (saya berpikir, maka saya ada).[1]

Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang kepada kebenaran. Yang benar hanya tindakal akal yang terang benderang yang disebut Ideas Claires el Distictes (pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang inilah pemberian tuhan seorang dilahirkan ( idea innatae = ide bawaan).

Sebagai pemberian tuhan, maka tak mungkin tak benar. Karena rasio saja yang dianggap sebagai sumber kebenaran, aliran ini disebut rasionlisme. Aliran rasionalisme ada dua macam , yaitu dalam bidang agama dan dalam bidang filsafat. Dalam bidang agama , aliran rasionalisme adalah lawan dari otoritas dan biasanya digunakan untuk mengkritik  ajran agama. Adapun dalam bidang filsafat, rasionalisme adalah lawan dari empirisme dan sering berguna dalam menyusun teori pengetahuan .

3.      Positivisme

Tokoh aliaran ini adalah august compte (1798-1857). Ia menganut paham empirisme. Ia berpendapat bahwa indera itu sangat penting dalam memperoleh pengetahuan. Tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Kekeliruan indera akan dapat dikoreksi lewat eksperimen. Eksperimen memerlukan ukuran-ukuran yang jelas. Misalnya untuk mengukur jarak kita harus menggunakan alat ukur misalnya meteran, untuk mengukur berat menggunakan neraca atau timbangan misalnya kiloan . Dan dari itulah kemajuan sains benar benar dimulai. Kebenaran diperoleh dengan akal dan didukung oleh bukti empirisnya. Dan alat bantu itulah bagian dari aliran positivism. Jadi, pada dasarnya positivism bukanlah suatu aliran yang dapat berdiri sendiri. Aliran ini menyempurnakan empirisme dan rasionalisme.

4.      Intuisionisme

Henri Bergson (1859-1941) adalah tokoh aliran ini. Ia menganggap tidak hanya indera yang terbatasa, akal juga terbatas. Objek yang selalu berubah, demikian bargson. Jadi, pengetahuan kita tentangnya tidak pernah tetap. Intelektual atau akal juga terbatas. Akal hanya dapat memahami suatu objek bila ia mengonsentrasikan dirinya pada objek itu, jadi dalam hal itu manusia tidak mengetahui keseluruhan (unique), tidak dapat memahami sifat-sifat yang tetap pada objek. Misalnya manusia menpunyai pemikiran yang berbeda-beda. Dengan menyadari kekurangan dari indera dan akal maka bergson mengembangkan satu kemampuan tingkat tinggi yang dimiliki manusia, yaitu intuisi.[2]

5.      Kritisme

Aliran ini muncul pada abad ke-18 suatu zaman baru di mana seseorang ahli pemikir yang cerdas mencoba menyelesaikan pertentangan antara rasionalisme dengan empirisme.

Seorang ahli pikir jerman Immanuel Kant (1724-1804) mencoba menyelesaikan persoalan diatas, pada awalnya, kant mengikuti rasionalisme tetapi terpengaruh oleh aliran empirisme. Akhirnya kant mengakui peranan akal harus dan keharusan empiris, kemudian dicoba mengadakan sintesis.  Walaupun semua pengetahuan bersumber pada akal (rasionalisme), tetapi adanya pengertian timbul dari pengalaman (empirime).

Jadi, metode berpikirnya disebut metode kiritis. Walaupun ia mendasarkan diri dari nilai yang tinggi dari akal, tetapi ia tidak mengingkari bahwa adanya persoalan-persoalan yang melampaui akal.[3]

6.      Idealisme

Idealisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa hakikat dunia fisik hanya dapat dipahami dalam kaitan dengan jiwa dan roh. Istilah idealisme diambil dari kata idea yaitu suatu yang hadir dalam jiwa. Pandangan ini dimiliki oleh plato dan pada filsafat modern.

Idealisme mempunyai argumen epistemologi tersendiri. Oleh karena itu, tokoh-tokoh teisme yang mengajarkan bahwa materi tergantung pada spirit tidak disebut idealisme karena mereka tidak menggunakan argumen epistemologi yang digunakan oleh idealisme. Idealisme secara umum berhubungan dengan rasionalisme. Ini adalah mazhab epistemologi yang mengajarkan bahwa pengetahuan apriori atau deduktifdapat diperoleh dari manusia denganakalnya.


[1] A. Susanto, Filsafat Ilmu, PT Bumi Aksara. Jakarta. 2011. Hlm 141-142.

[2] Ahmad Tafsir. Filsafat umum akal dan hati sejak thales sampai capra. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. 2009 Hal 24-28.

[3] Ahmad Tafsir. Filsafat umum akal dan hati sejak thales sampai capra. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. 2009 Hal 28-29.


[1] Jujun S. Suriasumantri. FILSAFAT ILMU sebuah Pengantar Populer. PT.Pancaranintan Indahgraha. Jakarta.  2007. Hlm. 50

[2] A. Susanto, Filsafat Ilmu, PT Bumi Aksara. Jakarta. 2011. Hlm 137-138

[3] Jujun S. Suriasumantri. FILSAFAT ILMU sebuah Pengantar Populer. PT.Pancaranintan Indahgraha. Jakarta.  2007. Hlm. 64


[1] A. Susanto, Filsafat Ilmu, PT Bumi Aksara. Jakarta. 2011. Hlm 136

[2] Mohammad Adib, Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar. Yogyakarta. 2010. Hlm 86.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *