apa itu era post truth

Apa Itu Era Post-Truth?

Diposting pada

Istilah post-truth jika dicermati dari sisi etimologi, berasal dari kosakata Bahasa Inggris. Dalam Oxford Dictionary, disebutkan post artinya after (setelah) dan truth artinya quality or state of being true (kualitas atau dalam keadaan benar atau kebenaran) (Manser, 1996). Manser. (1996). Oxford Learner’s Pocket Dictionary. Oxford: Oxford University Press.

Truth merupakan kata benda dari kata sifat true. Jadi post-truth artinya setelah atau paska-kebenaran. Kemudian disebut era post-truth atau era paska-kebenaran karena dalam rentang masa ini penggunaan akal yang melandasi kebenaran dan pengamatan fakta sebagai basis pengukuran obyektifitas seakan-akan tak penting dalam mempengaruhi opini, pemikiran, maupun perilaku publik.

Dalam rentang masa ini, orang mempengaruhi publik dengan cara menomorsatukan sensasionalitas dan menggerakkan emosionalitas (Haryatmoko, 2018).

Publik lebih tertarik dengan kehebohan sebuah berita; begitu juga mereka lebih terpengaruh dengan barita dan hal-hal yang menyentuh perasaan, seperti membuat rasa gembira, melahirkan sikap sedih, kecewa, marah, dan seterusnya. Publik lebih sensitif jika disentuh sedikit emosinya.

Post truth yang dihasilkan sebagai sebuah kebenaran yang dangkal demikian dapat dijelaskan eksistensinya karena di dalam dunia hiper-realitas, objek-objek asli yang merupakan hasil produksi bergumul menjadi satu dengan objek-objek hiper-real yang merupakan hasil reproduksi.

Realitas-realitas hiper yang diciptakan media sosial berbasis digital tampak lebih real daripada kenyataan yang sebenarnya. Pada kondisi demikian, eksistensi model, citra-citra dan kode hiper-realitas bermetamorforsis sebagai pengontrol pikiran dan tindak-tanduk manusia sehingga yang muncul selanjutnya adalah post truth yang merupakan sebuah keadaan yang membuat emosi dan keyakinan pribadi (bukan fakta-fakta objektif) yang menjadi dasar pembentukan opini publik.

Oleh karenanya, bagi mereka yang terpapar oleh pasca-kebenaran tidak akan mempedulikan nilai-nilai kebenaran saat menyatakan sesuatu. Mereka lebih mengaharapkan melalui pernyataan itu tujuan yang dikehendaki mereka dapat terwujud.

Kedua, meskipun post truth berkembang sangat cepatkarena mengglobalnya pemanfaatan internet dan media sosial, namun sejumlah pakar menganggap nalar pascakebenaran atau kebenaran dangkal ini dilahirkan oleh filsafat post-modernisme.

Lee mcIntyre misalnya, Lee berpendapat bahwa induk dari post truth adalah filsafat postmodernisme yang menolak objektivitas dan kebenaran objektif. Kebenaran dalam pandangan Lee demikian hanyalah pandangan ideologis subjektif pencetusnya.

Ralph Keyes yang definisinya tentang pasca kebenaran/ kebenaran dangkal (post truth) diadopsi oleh Oxford Dictionaries di 2016, juga mengemukakan hal yang sama. Menurutnya penolakan post-modernisme pada kebenaran objektif yang mengakibatkan semua bentuk kebenaran menjadi relatif telah menjadikan post-modernisme sebagai kapal bagi post truth.

Era post-truth dipenuhi dengan fakta yang parsial yang memiliki daya legitimatif terhadap suatu kepentingan. Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah adanya proses seleksi dalam menyampaikan fakta, dimana fakta yang mendukung untuk kepentingan tertentu maka fakta tersebutlah yang disebut “fakta”. Jika tidak sesuai dengan kepentingan tertentu, fakta tersebut bukanlah “fakta” dan ditolak.

Realitas seperti inilah yang menjadi kunci utama dalam memahami fenomena post-truth Seiring perkembangan teknologi yang begitu pesat, post-truth ini justru mendapat coverage yang luas dari media. Dengan kata lain, medialah yang menjadi tempat bagi tumbuh dan bersemainya post-truth.

Jika kita mengamati hiruk pikuk sosial keagamaan di Indonesia, kira-kira fenomenanya sama. Opini publik dibangun melalui sentimen emosional, termasuk melalui isu SARA yang sangat kental. Di sini, fakta objektif tidak lagi penting. Benar atau salah pun tidak lagi diperdulikan. Yang penting adalah publik memercayainya. Itulah dunia post-truth.

Di sisi lain post-truth juga memunculkan perdebatan klasik tentang nilai kebenaran itu sendiri. Dalam perspektif konstruktivisme kebenaran berkelindan dengan subjektivisme dan relativisme. Sehingga kebenarannya menjadi kebenaran yang selalu diperebutkan. Fakta kemudian mengalami tantangan dan ditafsirkan secara berbeda. Kebenaran kemudian menjadi sebuah kepercayaan dalam suatu masyarakat tertentu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *